Translate

Showing posts with label Historical Fiction. Show all posts
Showing posts with label Historical Fiction. Show all posts

Thursday, September 19, 2013

Books "OKEI"

Books “OKEI – KASIH TAK SAMPAI SEORANG SAMURAI”
Judul Asli : OKEI
Copyright © 1974 by Mitsugu Saotome
English translation by Kenneth J. Bryson by title ‘Okei – A Girl From The Provinces’ | published by Alma Books, London, 2008.
Penerbit Serambi
Alih Bahasa : Istiani Prajoko
Editor : Fenty Nadia Luwis
Pemeriksa Aksara : Diksi Dik
Pewajah Isi : Eri Ambardi
Cetakan I : Agustus 2013 ; 596 hlm ; ISBN 978-979-024-405-4
Rate : 3,5 of 5

Okei baru berusia 15 tahun ketika ia pertama kali bertemu dengan sosok samurai muda yang kelak selalu memenuhi benak dan hatinya. Sebagai putri pertama dari keluarga pengrajin gentong kayu di wilayah Aizu-Wakamatsu, yang dipimpin oleh bangsawan Matsudaira Katamori – gubernur kehormatan dan masih memiliki hubungan erat dengan keluarga kerajaan. Masyarakat Aizu yang berada jauh dari pusat kota, hidup dengan tenang tanpa menyadari adanya pergolakan politik serta ancaman adat-istiadat serta budaya yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka.

Di awali pada penghujung tahun 1862 menurut kalender Masehi, pemerintahan feodal Jepang yang tertata dalam susunan kabinet dimana ada pihak Kerajaan serta Sang Putra Langit sebagai sosok pemimpin dan harapan masyarakat Jepang, bekerjasama dengan Penguasa Shogun yang memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan serta pusat kekuatan militer negara, mulai mengalami guncangan. Masuknya pengaruh ‘dunia Barat’ yang tidak disukai oleh kaum feodal Kuno, semakin kuat ketika akhirnya mereka berhasil ‘mendekati’ Kaisar Jepang baru yang masih sangat muda.

Sunday, March 31, 2013

Books "DREAMS OF JOY"



Books “IMPIAN JOY”
Judul Asli : DREAMS OF JOY
Copyright © 2011 by Lisa See
Penerbit Gradien Mediatama
Alih Bahasa : Martha Pratana
Editor : Mariani Sutanto & Ang Tek Khun
Desain sampul : Heavenly-illusioniz Studio
Cetakan I : Februari 2013 ; 520 hlm
Rate : 4 of 5
[ Review in Bahasa Indonesia & English ]

“Ma, aku tidak tahu lagi siapa diriku ini. Aku juga tak bisa memahami negeri ini lagi. Negeri ini telah membunuh papa. Aku tahu, Mama akan berkata bahwa aku ini orang yang sedang kebingungan dan aku ini goblok. Mungkin Mama benar, tetapi aku harus mendapatkan jawabannya. Barangkali Negeri Cina adalah rumahku yang sesungguhnya...” [ p. 14 – 15 ]
Kisah ini dibuka dengan sepucuk surat yang ditulis oleh Joy – gadis remaja yang baru saja mengalami tragedi dalam kehidupannya, dan kemudian mendapati bahwa kehidupan yang selama ini dijalaninya ternyata merupakan kebohongan semata. Joy menemukan bahwa dirinya bukan putri kandung kedua orang tuanya. Pearl – sang ibu yang membesarkan dirinya semenjak bayi sebenarnya adalah bibinya, sedangkan May – sang bibi justru merupakan ibu kandung Joy, yang hamil saat remaja dengan seorang seniman asal Cina, sebelum keduanya Pearl dan May melarikan diri ke Amerika. Ayah yang membesarkan Joy bukanlah ayah kandungnya, namun beliau meninggal dengan menggantung diri akibat tekanan dan ancaman dari pihak FBI yang menyelidiki keterkaitan dirinya dengan organisasi terlarang serta pergerakan komunis dari Cina. Penyesalan Joy serta rasa bersalah, membuatnya mengambil keputusan nekad, ia melarikan diri dari kediamannya di Los Angeles, Amerika dan terbang menuju negeri Cina, mencari ayah kandung yang tak pernah dikenalnya.

Wednesday, March 27, 2013

Books "MEMOIRS OF A GEISHA"



Books “Memoar Seorang Geisha”
Judul Asli : MEMOIRS OF A GEISHA
Copyright © 1997 by Arthur Golden
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Listiana Srisanti
Cetakan XI : Desember 2007 ; 496 hlm
[ Review in Indonesia & English ]

[ Period : 1930 ] ~ [ Setting : Yoroido – Kyoto ; Japan ] ~ [ Facts : History about the living of geisha community in Gion District, Kyoto ]

Awal pembukaan kisah cukup menarik, dimulai dengan kata pengantar berjudul ‘Catatan Penerjemah’ yang anehnya berbeda dengan nama alih bahasa di edisi terjemahan ini, namun sambil melanjutkan halaman demi halaman, dan melalui hasil wawancara dengan sang penulis, ternyata memang kondisi ini disengaja, untuk mendekatkan pembaca dengan penuturan lewat sudut pandang orang pertama : sosok Sayuri – tokoh utama kisah ini, dengan perantaraan orang kedua, yaitu ‘sang penerjemah’, yang dituturkan bagaikan sebuah memoar. Ini adalah sebuah kisah fiksi yang memperoleh banyak masukan dari gambaran kehidupan nyata para geisha di era tahun 1930-an. Meski sebuah fiksi belaka, namun banyak kebenaran di dalamnya, fakta-fakta yang selama ini tersembunyi dalam suatu komunitas kehidupan yang penuh dengan kontroversi serta skandal. 

Tokoh utama dalam kisah ini adalah gadis cilik bernama Chiyo – putri kedua pasangan nelayan miskin Minoru Sakamoto dari pernikahannya yang kedua. Ia memiliki kakak perempuan bernama Satsu yang berbeda usia 7 tahun. Jika Satsu sangat mirip dengan ayah mereka, maka Chiyo mirip sekali dengan ibunya, terutama sepasang mata besar berwarna kelabu transparan, sesuatu yang langsung menarik perhatian dimana sebagian besar warna mata di Jepang adalah gelap atau kecokelatan. Saat Chiyo berusia 7 tahun, sang ibu jatuh sakit dan tak pernah pulih, membuatnya senantiasa berbaring tak berdaya dan kesakitan di atas tempat tidur. 

Books "IMPERIAL WOMAN"



Books “MAHARANI”
Judul Asli : IMPERIAL WOMAN
Copyright © 1956 by Pearl S. Buck
Copyright © renewed 1984 by Janice C. Walsh, Richard S. Walsh, John S. Walsh, Henriette C. Walsh, Mrs. Chieko Singer, Edgar S. Walsh, Mrs. Jean C. Lippincott and Carol Buck.
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Lily Wibisono
Cetakan II : Agustus 1993 ; 360 hlm [ part 1 ] + 440 hlm [ part 2 ]

[ Period : Month of April 1852 M ; Month of 3 on Cina Year 208 on Manchu | Ch’ing Dynasty | Peking, Cina ]

Pada bulan keenam, hari kedua puluh, para perawan Manchu harus tampil di hadapan Ibu Suri sang Putra Langit, untuk dipilih menjadi selir-selir sang Kaisar. Kisah ini dimulai dari sosok Orchid – gadis rupawan berusia 17 tahun, salah satu dari 60 orang gadis yang terpanggil menghadap Ibu Suri. Orchid yang kemudian dipanggil sebagai Yehonala – belajar menarik perhatian pihak-pihak yang terkait, karena ia mendambakan perubahan besar dalam hidupnya, ia menginginkan dirinya sebagai Selir Terpilih Putra Langit. Meski hatinya tertuju pada saudara sepupunya, Jung Lu, bahkan dapat dikatakan mereka dijodohkan semenjak kecil, namun Yehonala tidak langsung menerima lamaran pujaan hatinya, justru menantikan kehidupan baru nan megah di dalam istana. Ia adalah gadis yang sangat cerdas dan memiliki kemauan keras, namun sebagaimana semua gadis belia, ia sangat polos akan kejamnya dunia di balik tembok raksasa Kerajaan. 

Books "SONS"



Books “WANG SI MACAN”
Judul Asli : SONS
( book 2 of The House of Earth Trilogy )
Copyright © 1932, renewed 1959 by Pearl S. Buck
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Irina M. Susetyo
Cover by Satya Utama Jadi
Cetakan ke-01 : Maret 2008 , 608 hlm

Sinopsis :
Kelanjutan dari kisah keluarga Wang dimulai dengan sang Kepala Keluarga Wang Lung menjelang ajalnya hanya ditemani selir setia Pear Blossom. Walaupun telah memiliki kekayaan & mendiami istana yang megah, namun diakhir hayatnya, Wang Lung memilih menghabiskan waktunya di kediaman lama di tanah pertanian, tempat dimana ia dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Kedua putranya sibuk mempersiapkan pemakaman dan merencanakan pembagian tanah warisan milik mereka setelah Wang Lung meninggal. Sedangkan putra ketiga yang melarikan diri, tidak dapat ditemukan sampai Wang Lung menghembuskan nafas terakhir, menyusul ayahnya dan istri pertama yang setia O-lan, ibu seluruh putra-putrinya yang telah lama meninggalkan dunia terlebih dahulu.

Books "THE GOOD EARTH"



Books “BUMI YANG SUBUR” 
Judul Asli : THE GOOD EARTH
( book 1 of The House of Earth Trilogy ) 
Copyright © 1931 / renewed 1958 by Pearl S. Buck
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama 
Alih Bahasa : Gyani Buditjahja
Cover by Pang Warman 
Cetakan ke-04 : Agustus 2003 , 536 hlm
 
"Novel ini telah terjual habis dalam waktu singkat, menuai banyak pujian & penghargaan dari banyak kalangan. Puncaknya saat memenangkan hadiah Putlizer 1932 dan diterjemahkan kedalam lebih dari tigapuluh bahasa serta menduduki tempat terhormat di gedung sandiwara & gedung bioskop. Novel ini mengisahkan tentang Cina pada kehidupan abad kedua puluh, dimasa pemerintahan kekaisaran terakhir sehingga terjadi pergolakkan politik & sosial secara besar-besaran yang menyengsarakan rakyat jelata. Penulis mampu menggambarkan pergeseran antara ajaran dan norma-norma tradisional dengan masuknya pengaruh bangsa asing yang menjerat kehidupan banyak orang, seperti senjata, candu, budaya dan seni, pola pikir serta pendidikan menuntut kesetaraan derajat antara pria-wanita, kalangan atas-kalangan bawah. Suatu kisah yang pantas dinikmati tanpa melihat zaman ataupun waktu, karena hal ini masih banyak terjadi sampai saat ini dimana pun kita berada. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dapat dijadikan refleksi akan apa yang kita pandang sebagai prinsip-prinsip kehidupan."

Sinopsis :

Ini adalah awal kisah tentang dinasti keluarga Wang – dimulai dari kehidupan Wang Lung, seorang petani muda dengan kehidupan sederhana sehari-hari menggarap tanahnya yang tidak seberapa untuk menghidupi dirinya beserta ayahnya yang telah beranjak tua. Menjelang usia yang cukup, sebagaimana didikan pemuda yang harus melanjutkan keturunan, maka ia mencari calon istri untuk melahirkan putra-putra penerus nama keluarga. Karena dirinya hanya seorang petani miskin, maka ia hanya mampu membayar mas kawin untuk menebus seorang budak wanita biasa dari Rumah Keluarga Hwang yang terpandang di desanya. 

Monday, February 18, 2013

Books "THE LAST CONCUBINE"



Judul Asli : THE LAST CONCUBINE
Copyright © 2008 by Lesly Downer
Penerbit Matahati
Alih Bahasa : Yusliani Zendrato
Editor : Nadya Andwiani
Cetakan I : November 2008 ; 660 hlm
Cover by Abdul Latief

Dengan latar belakang Jepang sekitar tahun 1800-an, dimana kehidupan masyarakat Jepang berpusat pada 3 kota besar yakni Osaka, Edo dan Kyoto-kota suci dan ibukota resmi negara Jepang serta kediaman sang Kaisar di wilayah barat. Namun kekuasaan dijalankan terbagi antar daimyo (=bangsawan agung) yang memerintah provinsi-provinsi, dimana mereka bertanggung jawab dan bersumpah setia terhadap shogun. 

Dan kisah ini berpusat di wilayah timur, yakni kota Edo (sekarang disebut Tokyo), tepatnya dimulai dari kehidupan dalam Kastil Edo, kediaman penguasa Lord Iemochi sebagai keturunan shogun Klan Tokugawa beserta para wanita – 3000 selir Sang Shogun Muda.

( Lembah Kiso, 1861 )
Gadis cilik bernama Sachi (=kebahagiaan) telah menginjak usia sebelas tahun, namun dirinya masih terlihat berbeda dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Jika anak-anak lain bermata cokelat atau hitam, warna mata Sachi hijau tua, tubuhnya begitu ringkih dan kurus dengan warna kulit putih bening dan pucat, sedangkan anak-anak lain tampak kuat dengan kulit kecokelatan layaknya anak-anak petani. Namun Sachi tidak terlalu memperdulikan hal tersebut apalagi kedua orang tua angkatnya sangat menyayangi dirinya. 

Jiroemon – ayah Sachi sebagai keturunan samurai yang menjabat sebagai kepala Desa Kiso, sibuk dengan persiapan menyambut kedatangan rombongan Yang Mulia Putri Kazu, adik Kaisar – Sang Putra Langit, yang akan melewati Nakasendo (jalan raya yang menghubungkan Kyoto dan Edo yang dibangun pada abad ke-7) menuju Kastil Edo untuk menjadi pengantin sang Shogun. Tanpa ada yang menduga bahwa pada hari kedatangan Sang Putri di penginapan milik Jiroemon, maka saat itu pula nasib dan masa depan Sachi telah menanti. Sachi diambil sebagai dayang Putri Kazu yang akan menetap selamanya di Kastil Edo. Sachi harus meninggalkan Jiroemon dan Otawa, kedua orang tua beserta kedua adiknya yang masih kecil, menuju kehidupan yang sama sekali baru – saat itu ia berusia sebelas tahun.

Books " A NOTE FROM ICHIYO"



Judul Asli : A NOTE FROM ICHIYO
Penulis : Rei Kimura
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Moch. Murdwinanto  
Cover by Mulyono
Cetakan ke-01 : Maret 2012 ; 280 hlm 

Saat melihat buku ini yang pertama menarik perhatian adalah covernya, dengan illustrasi desain bunga sakura dilatar belakangi foto mata uang kertas Jepang dengan sosok wanita di dalamnya … lebih mendekat, terpapar tulisan : “Catatan Ichiyo – Perempuan Miskin Di Lembar Uang Jepang”  - wah, semakin penasaran diriku dan segera membalik back-cover guna mengetahui sinopsisnya, ternyata kisahnya semakin menggugah keingin-tahuanku akan kebenaran isi bukunya …

Kisah dibuka pada saat sosok Ichiyo Higuchi bertahan dengan kondisi penyakitnya yang semakin parah, berlanjut dengan kondisi ‘flash-back’ kembali ke masa lalu, kisah tentang kedua orang tuanya, perjalanan hidup mereka hingga lahirlah anak-anak termasuk si cilik Natsuko yang di kemudian hari berganti nama menjadi Ichiyo. 

Yang cukup menyenangkan gaya penulisan yang digunakan menggunakan bahasa simple, bahasa sehari-hari dengan pengungkapan yang lugas, tanpa disertai gaya kuno yang terkadang terlalu panjang dan bertele-tele. Dengan menggunakan dialog serta berbagai percakapan, membuat pembaca seakan ‘menonton’ sebuah kisah drama di televisi, penggambaran suasana hati serta perasaan para karakter, semakin mempererat pemahaman kita akan kondisi serta situasi yang sedang terjadi.

Friday, February 15, 2013

Books "A SINGLE SHARD"



Judul Asli : A SINGLE SHARD
Copyright © by Linda Sue Park
Penerbit Atria
Alih Bahasa : Maria M. Lubis
Editor : Fenty Nadia & Ida Wajdi
Illustrasi : Indra Bayu
Desain Cover  : Aniza Pujiati
Cetakan I : Maret 2012 ; 196 hlm 

Kisah ini berawal di sebuah desa kecil di pantai barat Korea, sekitar pertengahan abad ke-12. Tentang seorang pemuda yang disebut sebagai ‘Tree-ear’ atau jamur kuping, ia diberikan nama serupa dengan jamur keriput dan berbentuk setengah lingkaran yang mampu tumbuh di batang-batang pohon mati atau tumbang, muncul dari kayu lapuk tanpa benih semaian. Sebatang kara semenjak kanak-kanak ketika terjadi wabah penyakit di desanya. Semula ia hendak dirawat oleh para rahib di kuil, namun ketika tiada yang sanggup, maka Crane-man, seorang tunawisma yang cacat kaki, bersedia merawatnya hingga dewasa. Meski tinggal di bawah jembatan dan mencari makanan dari sisa-sisa yang makanan yang terbuang, Crane-man mengajarkan budi pekerti serta kehormatan harga diri kepada Tree-ear, agar tidak pernah melakukakan perbuatan tercela.

“Mencuri dan mengemis membuat seorang manusia tidak lebih baik daripada seekor anjing.”
“Pekerjaan memberikan harga diri kepada seorang manusia, sementara mencuri memusnahkannya.”

Di sela-sela waktunya, Tree ear suka mengamati Min – pembuat Keramik terbaik di desa Ch’ulp’o, hasil karyanya terkenal seantero Korea, karena keindahan serta keunikan yang tak bisa ditiru oleh pembuat Keramik lainnya. Dan saat suatu hari Tree ear memberanikan diri untuk melihat hasil karya Min dari dekat, tanpa sengaja ia memecahkan salah satu diantaranya. Demi menebus kesalahan, Tree ear menawarkan jasa untuk bekerja tanpa bayaran kepada Min. Di mulai dari mencari kayu sebagai bahan bakar tungku pembuatan keramik, hingga akhirnya Tree ear diperbolehkan mencari dan menggali tanah liat bahan utama pembuatan keramik yang bagus. 

Thursday, February 14, 2013

Books "GINKO"


Books “GINKO”
Judul Asli : BEYOND THE BLOSSOMING FIELDS
Published by  Alma Books, London, 2008
Copyright © Jun’ichi Watanabe, 1970
Translate from Japan by Deborah Iwabuchi & Anna Isozaki from original tittle ‘Hanauzumi’
Penerbit Serambi Ilmu Semesta
Alih Bahasa : Istiani Prajoko
Editor : Anton Kurnia & Dian Pranasari
Cetakan I : Oktober 2012 ; 576 hlm
[ Review in  Bahasa Indonesia & English ]

[ Period : at the end of 19 Century ; Meiji era ] ~ [ Setting : Japan ] ~ [ History : Ginko Ogino – the first female physian di Japan ]

Desa Tawarase, Saitama Utara, yang subur dan makmur, dipimpin ole Ayasaburo Ogino – Kepala Desa yang merupakan keturunan klan Ashikaga yang terhormat, sehingga meskipun merupakan keluarga petani, mereka memiliki hak istimewa serta berhak menyandang pedang. Di usia yang ke-52, Ayasaburo lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, sehingga seluruh urusan rumah tangga harus ditanggung oleh Kayo – sang istri yang berusia 45 tahun, terutama karena putra tertua : Yasuhei yang sudah berusia 24 tahun, tidak berminat menekuni usaha keluarga. Dan saat itu penduduk desa sedang bergunjing dengan peristiwa pulangnya putri bungsu Ogino yang bernama Gin, tanpa didampingi keluarga sang suami. Kepulangan dirinya yang telah menikah selama 3 tahun dengan Kanichiro – putra tertua petani Inamura yang kaya raya, bukan untuk melahirkan ataupun kunjungan penghormatan kepada orang tuanya, tanpa membawa apa pun, menjadi topik hangat bagi masyarakat desa yang tak memiliki hiburan dalam kesehariannya.

Gin Ogino yang cantik, pulang ke kediaman orang tuanya dalam keadaan kurus  dan sakit keras. Ia melarikan diri dari kediaman keluarganya suaminya, tanpa membawa apa pun selain buntelan kecil, berjalan pulang demi mencari ketenangan serat pemulihan. Gin terkena penyakit ‘norin’ (istilah pengobatan Cina untuk penyakit kelamin ‘gonorrhoea’) yang dideritanya selama 2 tahun lebih akibat perbuatan sang suami. Kini Gin berusaha memulihkan kekuatan dirinya, karena dokter keluarga mereka hanya bisa membantu mencegah kondisi agar tidak bertambah parah. Diagnosa untuk penyakit ini fatal dan belum ada cara penyembuhannya pada waktu itu. Dan kaum wanita yang mayoritas terkena penyakit ini tak mampu memiliki keturunan seumur hidupnya. Gin baru menikah saat ia berusia 16 tahun, dan kini menjelang usia 20 tahun, ia tidak memiliki bayangan bagaimana masa depan yang harus ia jalani. Namun satu hal yang pasti, ia tak mau kembali ke kediaman keluarga sang suami.

Wednesday, February 13, 2013

Books "SILENCE"



Books “HENING”
Judul Asli : SILENCE
Copyright © 1996 by Shusaku Endo
Translated from Japanese Edition by William Johnston
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Cetakan ke-01 : Desember 2008 ; 304 hlm
Cover by Satya Utama Jadi

[ Review in Bahasa Indonesia & English ]

Sinopsis :
Dengan latar belakang Jepang pada abad ke-17, periode yang dikenal sebagai zaman Edo atau saat kekuasaan pemerintahan Jepang dibawah klan Tokugawa, kisah ini dibuka dengan kehebohan di Roma atas berita bahwa salah satu perwakilan Serikat Yesus dari Portugal yang ditugaskan di Jepang telah menjadi ‘murtad’ ( =mengingkari agamanya ) setelah menjalani hukuman penyiksaan di Nagasaki. Nama perwakilan Yesuit Portugal tersebut adalah Christovao Ferreira - seorang misionaris berpengalaman yang teramat dihormati & telah tinggal selama 33 tahun di Jepang sebagai provincial ( =jabatan tertinggi ) di mana sepak terjang serta karya-karya menjadi inspirasi banyak imam-imam lain serta para pengikut setia.

Jepang yang saat itu dalam kekuasaan pemerintahan Lord Ieyasu ( pengganti Lord Hideyoshi) memerintah dengan tangan besi sehingga rakyat kecil menderita akibat pajak-pajak tinggi yang berlaku. Satu-satunya yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya adalah penghentian penyebaran agama Kristen yang sempat tumbuh subur di kalangan masyarakat Jepang lewat pengaruh penyebaran oleh imam-imam Kristen Portugal. Bahkan Lord Ieyasu bertindak lebih ekstrim dengan memburu para pengikut / penganut agama tersebut untuk dihukum mati / disiksa untuk menjadi ‘murtad’ – baik orang Jepang sendiri maupun para imam itu sendiri.