Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Wednesday, August 28, 2013

Books "RONGGENG DUKUH PARUK"

Judul Asli : RONGGENG DUKUH PARUK
Copyright © by Ahmad Tohari
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cover by Mendiola Design | photos by Eriek Juragan
Cetakan VII : November 2011 ; 408 hlm
Rate : 3,5 of 5

Dukuh Paruk yang terdiri dari 23 rumah merupakan kawasan pemukiman yang kecil dan tersendiri, jauh dari kawasan pemukiman lainnya. Para penghuninya merupakan keturunan dari Ki Secamenggala – moyang yang pernah menanamkan ‘namanya’ dalam sejarah sebagai pelarian bromocorah yang sengaja mencari tempat terpencil untuk menyepi dan menghabiskan sisa hidupnya. Sisa keturunan yang masih ada, bertahan hidup dengan tetap memegang adat istiadat serta aturan peninggalan leluhur mereka, termasuk tetap menyembah pemakaman Ki Secamenggala dan mempercayai ramalan bahwa suatu saat, Dukuh Paruk akan kembali meraih kejayaan seperti masa lalu melalui titisan roh indang pada calon ronggeng.
“Di pedukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah merasuk tubuhnya. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan.” [ p. 13 ]


Dan kini ramalan itu akan terbukti melalui sosok gadis cilik bernama Srintil, yang baru berusia 11 tahun namun diketahui memiliki bakat serta dipercaya telah dirasuk roh indang ronggeng. Maka penduduk Dukuh Paruk bersuka cita dan menantikan ‘kelahiran’ sang ronggeng yang akan membesarkan nama Dukuh Paruk yang telah sekian lamannya terlupakan dalam debu dan kemiskinan yang membalut para penghuninya. Kakek Sakarya – sang kamitua sekaligus kakek Srintil, menyerahkan pendidikan cucunya pada Kartareja – sang dukun ronggeng Dukuh Paruk. Semua orang termasuk Srintil menyambut hal ini dengan kegembiraan dan kebahagiaan tersendiri, kecuali satu orang, Rasus – bocah berusia13 tahun, sahabat dan teman bermain Srintil yang entah mengapa tak menyukai ide tentang dunia ronggeng yang akan dijalani oleh Srintil.
“Seorang ronggeng di lingkungan pentas tidak akan menjadi bahan percemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Malah sebaliknya. Makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pula istrinya. Perempuan semacam itu puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti uangnya maupun berahinya.” [ p. 38-39 ]
[ source ]
Dukuh Paruk yang biasa senyap bagai tertidur, kini terbangun dengan semangat dan gairah baru. Semua penduduk menyambut dan memerikan yang terbaik bagi Srintil. Makanan terbaik, pakaian dan perawatan harian, Srintil si gadis cilik telah menjadi primadona. Hingga tiba waktunya bagi sang Ronggeng terpilih untuk menjalani upacara pemandian disaksikan seluruh warga sekaligus acara ‘tayub’ pertama kali di pemakaman Ki Secamenggala. Setelah semuan persyaratan dilaksanakan, maka dimulailah acara ‘bukak-klambu’ – sayembara terbuka bagi laki-laki dimana pun yang dapat menikmati keperawanan sang ronggeng dengan membayar upeti yang ditentukan olh sang dukun. Setiap laki-laki mulai yang masih muda hingga kakek-kakek sangat bergairah mendengr kabar ini, namun hanya segelintir yang memiliki kemampuan untuk membayar ‘upeti’ yang sangat tinggi. Kala malam menjelang penentuan siapakah yang berhak atas keperawanan Srintil, Rasus pergi meninggalkan Dukuh Paruk untuk menjelajahi dunia luar.

Kisah ini tentang kehidupan masyarakat yang masih menjalani kepercayaan serta adat peninggalan moyang jaman dahulu, terbelengkuh oleh ketidak-tahuan, kebodohan serta apatis akibat budaya serta pola pikir yang dibentuk sekian lamanya, berpadu dengan penggambaran alam yang masih terbilang ‘perawan’ – berbenturan dengan dunia luar yang mengalami perubahan ideologi dan penampilan baru. Sosok Srintil yang kemolekannya dijadikan ‘alat’ untuk memenuhi nafsu serta keserakahan pihak-pihak tertentu, disertai pemahaman bahwa hal-hal tersebut ‘diperbolehkan’ untuk dilakukan. Penulis berusaha menyajikan aneka sudut pandang mulai dari pola pikir para penduduk Dukuh Paruk hingga penduduk luar (terutama yang tinggal di kota), yang meski hidup dalam kondisi yang berbeda, namun masing-masing ternyata memiliki kesamaan : tingkat moral yang cukup bobrok dan menghalalkan segala cara. Kemudian sudut pandang Srintil yang terbilang polos dan ‘nrimo’ akan nasib yang terjadi pada dirinya, dengan Rasus yang memilih ‘keluar’ dari lingkaran adat yang ketinggalan jaman dan membelenggu penghuni Dukuh Paruk, termasuk juga Srintil.

[ source ]
Terbagi dalam 3 tahap, buku pertama yang berjudul ‘Catatan Buat Emak’ merupakan kisah perjalanan kehidupan masyarakat Dukuh Paruk dimulai pada ‘kelahiran’ sang ronggeng baru : Srintil, hingga ia meraih kesuksesan dan ketenaran sebagai Ronggeng yang paling dicari. Buku pertama ini juga memberikan gambaran dari sudut pandang Rasus, yang kehilangan sang ibu akibat wabah yang melanda desanya 11 tahun silam, dan bagaimana ia mengalihkan ‘pencitraan’ akan sosok ibu pada diri Srintil yang ia sayangi, hingga ia melarikan diri dari desanya bertepatan pada malam Srintil ‘direnggut’ keperawanannya. Buku ke-2 ‘Lintang Kemukus Dini Hari’ berkisah pada perjalanan Srintil yang mengalami ‘kekosongan’ dalam hidupnya sepeninggalan Rasus, dan justru saat namanya mulai terkenal, ia tak lagi menikmati perhatian dan tawaran dari berbagai pihak yang bersedai membayar tinggi demi menikmati jasa Srintil. Dan ditengah kegalauan tersebut, muncul oknum-oknum yang memanfaatkan ‘kebodohan’ penduduk Dukuh Paruk dalam propaganda politik yang berbuntut pada serangkaian kerusuhan di berbagai tempat.

Buku ke-3 ‘Jantera Bianglala’ yang merupakan penutup mengupas tentang dunia yang sama sekali berubah karena perang akibat masuknya paham komunis di Indonesia. Kerusuhan yang disebabkan oleh oknum dan antek PKI berdampak besar bagi masa depan penduduk Dukuh Paruk, terutama Srintil yang dijebak oleh orang-orang yang dendam terhadap penolakan yang ia lakukan. Secara pribadi, diriku lebih menyukai kisah dalam buku pertama dan kedua, karena penggambaran akan alam sekitar yang menakjubkan sekaligus perpaduan antara terharu, miris hingga muak dengan perlakuan semena-mena pada kaum wanita dengan menatas-namakan ‘adat-istiadat’. Sebuah keindahan yang anehnya muncul dari penggambaran akan dunia manusia dengan kebobrokan mental serta pikiran. Sedangkan buku ketiga, entah mengapa terasa menjadi anti-klimaks, bahkan dengan ending yang seakan-akan dipaksakan untuk masuk menutup perjalanan Srintil dan Rasus.

[ source ]
Dengan mengambil topik yang masih berputar-putar pada situasi setelah peristiwa G30S PKI sepanjang tahun 1965 hingga tahun-tahun kemudian, pengharapan akan masa depan bagaikan menanti munculnya matahari terbit di penghujung Dukuh Paruk yang penuh dengan carut-marut luka deraan dan siksaan. Penulis memberikan sebuah fakta tentang kehidupan masyarakat kecil yang diperdaya oleh sistem, tentang kebodohan dan sifat apatis yang merupakan pencerminan mengapa mayoritas masyarakat Indonesia tidak bisa berkembang lebih cepat. Meski tehnologi dan kemajuan jaman tetap berlangsung, namun pola pikir serta mental yang tertanam sekian lama, diwariskan melalui istilah adat-istiadat serta budaya yang tanpa sadar menjadi belenggu bagi setiap pribadi yang mudah dipermainkan oleh pihak-ihal tertentu. Jika menyimak berita tentang kerusuhan, demonstrasi, hingga memakan korban, simak lebih jauh siapakah dalang di baliknya yang menangguk keuntungan dari derita pihak lain yang disengaja dikobarkan ? Terlepas dari pesan-pesan moral serta pengungkapan dunia kelam politik dan propaganda yang hendak dihaturkan oleh penulis secara tersirat, kisah ini bisa menjadi ‘cerminan’ bagi siapa saja yang mau membuka ‘hati’ serta ‘pikiran’ untuk melakukan suatu perubahan dalam kehidupan yang tak beranjak dari warisan leluhur ratusan tahun silam. Lupakan tentang aturan dan kebiasaan, yang terpenting pegang dan ingat selalu pesan moral yang tak pernah lekang hingga kapan pun.
”Sekelilingku adalah tanah air yang kecil dan sengsara. Ditambah dengan nestapa yang sedang menimpa Srintil, Dukuh Paruk bertambah sakit. Sekelilingku adalah Dukuh Paruk yang sedang terlelap dalam gubuk-gubuk ialang. Dukuh Paruk yang sejak kelahirannya tak pernah mampu menangkap maksud tertinggi kehidupan. Tanah airku yang kecil tak pernah bersungguh-sungguh mengembangkan akal budi sehingga tidak tahu bahwa dia seharusnya meyingkirkan kurap dan cacing yang menggerogoti anak-anak, serta kebodohan yang hanya membawa kemelaratan turun-temurun. Karena tak pernah atau tak mampu mengembangkan akal budi pula, tanah airku yang kecil sesungguhnya tak pernah berusaha menyelaraskan diri dengan selera Ilahi.” [ p. 403 ]
[ source ]
Buku Pertama : CATATAN BUAT EMAK [ Chapter 1 -4 |p. 9 – 107 ]
Buku Kedua : LINTANG KEMUKUS DINI HARI [ Chapter 1-5 | p. 111 – 244 ]
Buku Ketiga : JANTERA BIANGLALA [ Chapter 1-4 | p. 247 -404 ]

Tentang Penulis :
[ source ]
Ahmad Tohari, lahir di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas pada tanggal 13 Juni 1948. Pendidikan formalnya hanya mencapai SMTA di SMAN II Purwokerto. Namun demikian beberapa fakultas seperti ekonomi, sospol, dan kedokteran pernah dijelajahinya. Semuanya tak ada yang ditekuninya.

Novel pertamanya, ‘Di kaki Bukit Cibalak’ ditulis pada tahun 1977. Menyusul kemudian ‘Kubah’ yang diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya pada tahun 1980, dinyatakan sebagai karya fiksi terbaik pada tahun itu oleh Yayasan Buku Utama. Gramedia menerbitkan novelnya yang ketiga berjudul ‘Ronggeng Dukuh Paruk’  (1981), yang segera disusul terbitnya ‘Lintang Kemukus Dini Hari’ – novelnya ke-4, sekaligus bagiang dari rangkaian trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Beliau tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka warna pada hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Beliau memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Boleh jadi karena rasa ketertarikanya dengan keaslian alam maka ia tak pernah betah hidup di kota. Jabatannya dalam staf redaksi kelompok Merdeka, Jakarta yang dipegangnya selama dua tahun ditinggalkannya. Kini, ia kembali berada di tengah sawah di antara lumpur dan katak, di antara lumut dan batu cadas di desanya.

[ more about this author and related works, just check at here : Ahmad Tohari | on Wikipedia Indonesia | FanPage Ronggeng Dukuh Paruk | Movie Adaptation ]

This Post also include in 
POSTING BERSAMA BBI Tema : Indonesian's Literature [ August. 2013 ] 

Best Regards,


17 comments:

  1. Pengen baca buku ini dAn nonton fiomnya, belum kesampean.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setealh baca. memang jadi penasaran sam filmnya ... ada yang pinjami ? (dasar-tidak-modal) :D

      Delete
  2. Ini salah satu buku favoritku. Dan aku termasuk yg nungguin filmnya sejak taun 2009. filmnya menurutku kurang pas, ga kyk novelnya. Tapi lbh baik drpd film rdp yg pertama taun 80an.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut berita yang aq baca, memang filmnya bukan murni adaptasi dari buku,penggambaran akan alam pedesaan dan sekitarnya bagus ya, meski tema dan karakternya aq kurang suka.

      Delete
  3. Menurut saya, kebodohan yang mengatas namakan tradisi semacam ini memang sengaja dipelihara oleh orang - orang tertentu - yang berpengaruh - untuk tetap melanggengkan pengaruh mereka di tengah2 masyarakat.
    Aku ingin punya buku ini!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, membaca buku ini benar-benar bikin miris sekaligus terenyuh, ini salah satu contoh mengapa bangsa indonesia susah move-on, gampang di-eksploitasi karena tidak adanya kesadaran untuk mengembangkan pikiran, budaya yang dipegang erat justru tampak salah-kaprah di era yang jauh lebih maju.

      Delete
  4. Replies
    1. ayo dibaca bunda oryz :D jangan cuman utak-atik si naga ...

      Delete
  5. Iya, filmnya kurang cocok sama novelnya. Padahal novelnya kental banget suasana medok Banyumasannya. Aku kangen baca-baca novel kayak gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aq belum nonton filmnya, antara penasaran pengen tahu, sama sdh ilfil duluan dengar komentar yg sdh nonton >,<

      Delete
  6. aku belum baca buku iniii..pernah pegang2 yang versi cover oranye di rumah helvry, tapi nggak jadi pinjem hihi... penasaran juga karena filmnya kata orang2 bagus. meskipun hmmm kayaknya menuai kontroversi karena melecehkan perempuan ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya aq pengen baca cuman buku pertama mbak, buku kedua sampai ketiga, duh bikin miris ...

      Delete
  7. ehhh tadi komenku udah masuk belum ya? kok tau2 ilang...iya pengen baca buku ini, sempet pengen pinjem ke helvry yg versi cover oranye tapi nggak jadi ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. sdh masuk kok, ini pakai moderasi soalnya, ngak papa biar banyak haha ... lemari kang helvry banyak buku-buku bagus ya *jadi pengen bongkar juga*

      Delete
  8. Replies
    1. hayooo...nanti jadi bagian peninggalan sejarah klo kelamaan tertimbun :D

      Delete
  9. Buku ini sudah dibuat versi buku audionya lo :) Dinarasikan oleh mas Butet selama 30 jam.
    Sayangnya agak mahal.

    ReplyDelete

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)