Translate

Showing posts with label Daniel Altieri. Show all posts
Showing posts with label Daniel Altieri. Show all posts

Wednesday, March 27, 2013

Books "THE COURT OF THE LION" [ An Introduction ]



Judul Asli : THE COURT OF THE LION
Copyright © 1989 by Eleanor Cooney & Daniel Altieri
Penerbit Serambi

Alih Bahasa : Fahmy Yamani
Editor : Adi Toha

Kesan :

Kisah sejarah tentang kerajaan Cina selalu membuat diriku terpesona, terutama penggambaran tentang kehidupan dibalik gemerlap dan pameran kekayaan berbagai pihak, muncul berbagai intrik dan konflik yang timbul dari akibat keserakahan, keegoisan, ketamakan, serta rasa takut yang senantiasa membayangi kehidupan orang-orang di dalamnya. Peperangan antara ‘orang-orang baik’ dan ‘orang-orang jahat’ selalu ada, memenuhi berbagai kalangan, pergantian generasi serta peralihan dinasti satu ke dinasti berikutnya. Jika ditanya dimanakah kebenaran akan problema yang menjadi pokok permasalahan sehingga menimbulkan peperangan dan perebutan kekuasaan silih berganti, maka bukan hanya satu jawaban yang akan muncul, tapi berbagai versi akan ‘kebenaran’ yang timbul ke permukaan, menjadi tonggak penulisan sebuah sejarah akan era baru kebangkitan suatu bangsa. Sebagaimana sejarah-sejarah lain juga ditulis dan diceritakan, mengalami berbagai perubahan serta perombakan sesuai dengan kepentingan pribadi sang penulis. 

Untuk kisah berikut yang akan kubagikan, penulis berusaha menampilkan beberapa fakta yang tercatat dalam era pemerintahan dinasti Tang pada abad ke delapan (sekitar 738 M menurut penanggalan Barat) tepatnya pada masa pemerintahan Tang Minghuang yang juga dijuluki Kaisar Cemerlang dari Dinasti Tang. Pada masa tersebut perekonomian  stabil dan hasil pertanian mampu mencukupi kehidupan masyarakat, dunia pengetahuan teknik serta seni budaya dan artistik mengalami perkembangan yang menarik akibat pengaruh-pengaruh luar. Perluasan wilayah kekuasaan hingga mencakup di Asia Tengah sampai Vietnam, membawa kemakmuran tersendiri bagi beberapa pihak. Sementara rakyat menikmati juga menikmati kemurahan hati Kaisar lewat keringanan beban pajak, pihak-pihak yang makmur juga semakin menimbun kekayaan, kedamaian dan kemakmuran yang tampak di permukaan menyembunyikan gejolak serta riak-riak pemberontakan dari suku-suku di luar wilayah kekuasaan bangsa Han dan tentunya pertentangan serta perebutan kekuasaan di dalam pemerintahan Dinasti Tang yang termahsyur. 

Books "THE COURT OF THE LION" [ Part I - II ]



THE COURT OF THE LION [ Book 1]
Copyright © 1989 by Eleanor Cooney & Daniel Altieri
Penerbit Serambi
Alih Bahasa : Fahmy Yamani
Editor : Adi Toha
Cetakan I : Februari 2012 ; 588 hlm 

Sinopsis :
Kehidupan dalam keluarga kerajaan Tang berjalan dengan damai. Sang Kaisar Minghuang yang dicintai rakyat, menjalankan pemerintahan dengan adil serta penuh kemurahan hati, dengan bantuan para pejabat dan para ahli negara yang setia pada kerajaan. Didampingi oleh Permaisuri Wang yang cantik, lemah-lembut dan sangat dicintainya, serta anak-anak dari selir yang lain, terutama dari Putri Wu yang memiliki ‘tingkat kesuburan tinggi’ sehingga mendapat gelar Istri yang Paling Disayangi. 

Kesan keluarga damai, rukun dan bahagia hanya tampak di permukaan. Sang Permaisuri yang tak kunjung hamil, senantiasa resah dengan keinginan untuk memiliki keturunan sendiri. Ia merasa iri dengan kondisi Putri Wu, sehingga akhirnya memutuskan meminta bantuan Ming Wu – wanita yang dikenal memiliki kemampuan gaib, untuk membantunya hamil. Sebagaimana rahasia yang ditutupi, akhirnya hal itu terbongkar, dan Putri Wu yang berperan dalam ‘membocorkan’ rahasia tersebut kepada kaisar, menyebabkan turunnya perintah untuk menurunkan derajat sang permaisuri dan membuangnya ke tempat pengasingan. 

Mantan permaisuri Wang, derajat keluarganya sebagai pengabdi setia kerajaan diturunkan menjadi rakyat biasa, meski tetap diberi kelengkapan dan kemewahan di tempat pembuangan, hatinya telah kosong karena suami terkasih tak mau menerima dirinya. Saat ia tahu bahwa kehamilan telah terjadi, kondisinya dalam pembuangan. Tak kuat menahan penderitaan batin, ia keguguran tanpa ada yang mengetahui kondisinya yang hamil muda. Tak ada lagi yang menjadi pegangan hidup, maka ia memutuskan mengakhiri hidupnya di depan altar kuil keluarga.