Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Friday, April 11, 2014

Books "DENGARLAH NYANYIAN ANGIN"

Books “DENGARLAH NYANYIAN ANGIN”
Judul Asli : KAZE NO UTA O KIKE
[ book 1 of The Rat Trilogy ]
Copyright © 1979 by Haruki Murakami
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Alih Bahasa : Jonjon Johana
Editor : Dewi Anggraeni
Desainer sampul : Andrey Pratama
Lay-out : Iedham Fitrianjaya Nugroho
Cetakan II : Mei 2013 ; 119 hlm ; ISBN 978-979-91-0562-2
Rate : 3.5 of 5
“Tiada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna”
Sebuah kalimat pembuka yang mampu membuatku sejenak berpikir sebelum melanjutkan perjalanan menelusuri kata demi kata, halaman demi halaman, dan akhirnya kuputuskan untuk ‘mencoba’ menikmati kisah ini, alih-alih berusaha melakukan analisa atau penilaian tersendiri akan keseluruhan kisah ini ...

Ini adalah kisah tentang ‘Aku’ yang berperan sebagai seorang pemuda berusia menjelang 20 tahun, yang  sedang menghabiskan masa liburan musim panas di kampung halaman yang terletak di pinggir pantai. Sepanjang musim panas ini, ibarat membaca sebuah jurnal, aneka kisah yang tidak memiliki ujung atau pangkal, tentang peristiwa yang dialami atau buah pikirang yang bercokol dalam benak ‘Aku’ – semuanya tertuang menjadi kisah ini ...



Kenapa kamu hanya membaca buku ?”“Soalnya Flaubert sudah mati.”“Kamu tidak membaca buku dari pengarang yang masih hidup ?”“Karya pengarang yang masih hidup tidak ada nilainya.”“Kok begitu ?”“Sebab aku merasa bisa memaafkan banyak hal dari orang yang sudah mati.”[ p. 13 – 14 ]
‘Aku’ terobsesi dengan sosok penulis yang telah tewas akibat bunuh diri secara dramatis, dan kegemarannya untuk membaca buku, mengusik sahabatnya, Nezumi, sosok pemuda keturunan keluarga kaya raya, luntang-lantung menghabiskan waktu melakukan aneka kegiatan aneh, mabuk-mabukan, mengendarai mobil hingga menabrak pagar taman kota, termasuk senantiasa ‘mengutuk’ dan ‘menghujat’ kaum berada yang tak berguna.

‘Aku’ secara kebetulan bertemu dengan wanita yang tak diketahui namanya, tertarik bagai laron yang selalu mendekati cahaya lampu pijat, hingga tewas terbakar oleh panasnya. Wanita yang tak bersedia untuk didekati atau diajak ‘berhubungan’ namun tak menolak untuk melakukan pertemuan beberapa kali, sebelum mengungkapkan rahasia yang dipendam, kehamilan hingga aborsi yang harus dijalaninya. Bukan jatuh hati yang dirasakan, melainkan hubungan unik yang acapkali tidak membutuhkan kata-kata, cukup berada dekat satu sama lain.

‘Aku’ adalah pemuda yang akan berusia 20 tahun, telah melakukan hubungan seks dengan tiga orang wanita. Yang pertama semasa SMA di tengah semak-semak beralaskan koran. Yang kedua dengan gadis ‘hippie’ berusia 16 tahun yang ditemui menggelandang di stasiun kereta api, ditampung hingga ia minggat membawa dompet beserta isinya. Yang ketiga dengan kenalan semasa kuliah, dan sang gadis melakukan bunuh diri beberapa minggu kemudian, tanpa diketahui apa alasan ia melakukannya.
Dibandingkan dengan alam semesta yang jelimet, dunia kita ini hanya seperti otak cacing.” [ p. 119 ]
Dengan menulis sosok bernama ‘Aku’ – penulis tampaknya bukan hanya sengaja merujuk pada dirinya pribadi, melainkan juga bagi para pembaca, karena keberadaan dan pengalaman ‘Aku’ merupakan cerminan dari manusia-manusia yang menjalani kehidupan tanpa makna tertentu. Mengambil periode masa antara tahun 1960-1970, kala dunia dalam gejolak dan transisi, mulai peperangan hingga pergeseran nilai-nilai moral, perekonomian yang menimbulkan krisis berkepanjangan, munculnya jenjang status sosial yang membuat perbedaan kalangan berada dengan kalangan menengah kebawah semakin dalam.

Masyarakat Jepang yang mampu bertahan setelah era reformasi setelah Meiji, kini dilanda krisis indentitas, terutama pada kaum muda, membuat nilai-nilai sosial dan budaya tradisional diabaikan, muncul aliran modernisasi yang salah satunya ‘ketidakmapanan’ dan ‘ketidakpedulian’ merupakan gaya hidup dan trend-setter tersendiri yang diyakini bagai sebuah agama baru. Pertanyaan tentang masa depan atau cita-cita, bukanlah sebuah hal penting dibandingkan keputusan untuk memilih menghabiskan waktu di bar dengan seorang wanita atau sekedar membaca buku (yang sama sekali tidak terlalu dipedulikan isi maupun penulisnya) untuk memperoleh bahan perdebatan.

~ The Rat Trilogy Plus ~
Buku yang ‘hanya’ setebal 119 halaman ini, bukanlah sebuah bacaan yang bisa dinikmati begitu saja. Secara sekilas, kisah ini tidak memiliki ujung-pangkal hingga berkesan ‘aneh’ karena kisah campur-aduk antara karakter-karakter yang (juga) tidak memiliki kejelasan, selain mereka semua berada pada suatu tempat dan waktu yang sama. Setelah menikmati sajian karya Haruki melalui Norwegian Wood, sudah kupersiapkan ‘mental’ untuk menghadapi sastra yang unik, namun tetap saja dari awal hingga akhir kisah ‘Kaze No Uta O Kike’ (Dengarlah Nyanyian Angin) ... benakku penuh dengan aneka pertanyaan dan pendapat tentang makna kehidupan serta dunia manusia yang absurb.

Satu hal yang pasti, kisah ini ditulis pada tahun 70-an, dan mengambil periode masa antara tahun 60-70-an di Jepang. Namun masa depan manusia (kaum muda khususnya) yang menjadi salah satu ‘kecemasan’ yang nampak pada tulisan ini, entah mengapa terasa justru sangat cocok di masa kini, masa-masa setelah milenium. Dunia yang sedang bergolak antara kesulitan perekonomian dan kesenjangan sosial yang semakin membesar, justru kaum muda yang diharapkan menjadi tonggak masa depan yang lebih baik, dibuai dengan kemajuan tehnologi dan sifat ‘manja’ sekaligus ‘anti-kemapanan’ dengan muncullah gelombang ‘mengikuti-arus-trend-setter’ alih-alih memiliki pemikiran atau keberanian berpendapat dan mengambil keputusan. Apakah ini berarti sang penulis mampu menuliskan sebuah ‘ramalan’ masa depan ? Sesuatu yang sangat-sangat menakutkan : bahwa kehidupan hanyalah sekedar ‘kehampaan’ belaka untuk menghabiskan waktu di dunia ....

“Hidup adalah kehampaan. Sebab pada awalnya hidup bukanlah sesuatu yang benar-benar kosong. Sesungguhnya, kita menumpuk kesengsaraan di atas kesengsaraan lalu dengan susah payah mengikis kesengsaraan itu sehingga hidup pun menjadi kosong.” [ p. 91 ]
[ more about this author, books and related works, just check on here : Haruki Murakami | on Wikipedia | on Goodreads | Trilogy of The Rat ]

~ This Post are include in 2014 Reading Challenge ~
73th Book in TBRR Pile

Best Regards,

Hobby Buku

No comments:

Post a Comment

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)