Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Saturday, July 20, 2013

Books "NORWEGIAN WOOD"

Books ”NORWEGIAN WOOD”
Judul Asli : NORUWEI NO MORI
Copyright © 1987 Haruki Murakami
Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Alih Bahasa : Jonjon Johana
Editor : Yul Hamiyati
Desain sampul : Aldy Akbar
Lay-out : Wendie Artswenda
Cetakan IV : Mei 2013 ; 423 hlm
Rate : 4 of 5

Mendengar nama Haruki Murakami merupakan gabungan antara rasa ‘penasaran’ sekaligus ‘ngeri’ karena karya-karya beliau bukan saja diakui oleh dunia literatur Internasioanl, melainkan juga termasuk dalam kategori ‘unik-aneh-tidak mudah untuk dipahami’ – maka harap dimaklumi jika baru kali ini diriku memberanikan diri membaca bukunya yang kebetulan diterbitkan ulang oleh penerbit KPG. Dan salah satu alasan lain mengapa diriku akhirnya ‘berani’ mencoba, karena sang penerjemah tidak lain Mr. Jonjon Johana yang sudah kukenal lewat karya terjemahannya seperti Shin Suikoden dan Botchan (yang cukup bagus pula hasilnya).

Buku setebal 400 halaman ini mampu kuselesaikan dalam tempo 2 hari, dan meski kisahnya dapat dikatakan sangat-sangat aneh, dan menggambarkan dunia manusia yang ‘sakit’ dengan pemikiran yang kelam dan cukup vulgar dalam membahas tema-tema yang terbilang tabu (terutama bagi masyarakat Asia), anehnya terdapat suatu ‘keindahan’ yang unik dalam rangkaian kata-kata serta kalimat percakapan yang acapkali mengundang tawa (antara geli sekaligus tersipu malu, mungkin juga sempat bikin warna wajaku jadi ‘blushing’ – untungnya tidak membaca di tempat umum). 


Secara singkat kisah ini merupakan perjalanan kenangan pria bernama Toru Watanabe yang kala itu berada di dalam pesawat menuju Jerman, dan mendengar lagu ‘Norwegian Wood’ yang dipopuleran oleh band ternama Beatles, hal ini mengingatkan Toru akan sosok wanita yang berada di dalam benak serta pikirannya selama bertahun-tahun, wanita bernama Naoko – kekasih sahabatnya, sekaligus kekasih hatinya yang tak pernah mendapat sambutan lebih dalam karena kondisi Naoko yang ‘sakit’ hingga menjelang ajalnya. Naoko dan Kizuki adalah sahabat Toru semasa SMA, kedekatan hubungan antara ketiga orang yang berbeda karakter serta sifat ini mengalami guncangan berat ketika Kizuki melakukan bunuh diri sebelum lulus sekolah, tanpa ada pertanda sebelumnya, tanpa meninggalkan pesan apa pun.

Kedekatan antara Toru dan Naoko terputus dengan sendirinya, masing-masing berusaha meneruskan perjalanan hidup dan masa depan yang dipilih, hingga nasib membawa keduanya bertemu saat sama-sama menempuh kuliah. Toru memendam rasa ‘cinta’ yang unik terhadap Naoko, bagaikan sebuah pengabdian tersendiri pada sosok yang ia anggap sempurna. Naoko sendiri menyukai Toru, namun tidak sama dengan kesukaannya terhadap Kizuki, yang senantiasa membayangi benak Naoko. Nantinya akan terungkap bahwa hubungan antara Naoko dan Kizuki ternyata ‘tidak-senormal’ pandangan umum, termasuk Toru yang tak pernah menduga adanya keanehan antara kedua sahabatnya. Dengan menggunakan seting pada masa tahun 1960-an, dimana terjadi pergolakan pada kaum muda-mudi, terutama di Jepang, yang kerap melakukan demonstrasi menentang birokrasi serta pemerintahan, munculnya pengaruh asing serta paham komunis, membuat suasana yang senantiasa meresahkan dan penuh gejolak. 

Toru Watanabe pada dasarnya adalah pemuda biasa-biasa saja, cukup jujur serta blak-blakan dalam mengutarakan pemikirannya, namun memiliki sedikit kelemahan : ia mudah tertarik dan  terpengaruh pada sosok manusia yang ‘berbeda’ (tersirat pula pada bacaan yang disukainya, mulai The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald, The Centaur karya John Updike, The Magic Mountain karya Michael Mann hingga Catcher In The Rye karya JD Salinger.) Terlihat pada persahabatannya dengan Nagasawa – pemuda dari keluarga kaya raya yang suka bersenang-senang dan tak pernah serius dengan wanita, meski memiliki kekasih yang cantik dan setia, disusul dengan perkenalan sekaligus hubungan unik dengan Midori Kobayashi – teman sekelasnya di mata kuliah drama.

Novel-novel Jepang memang banyak yang terbilang ‘aneh’ jika menyangkut tema berkaitan dengan sosial budaya dan pemahaman tentang hubungan seksual antar manusia. Kemungkinan karena situasi yang membuat mereka hidup dalam ‘ketertutupan’ pada masa-masa sebelumnya, bahwa topik seks merupakan hal yang tabu bahkan bagi pasangan suami-istri, maka berbagai ungkapan yang dilontarkan secara ‘blak-blakan’ membuat kesan tersendiri bagi novel karya penulis Jepang. Dari beberapa karya penulis Jepang yang cukup ternama dalam dunia sastra dan literatur yang sudah kubaca, kebanyakan mampu menimbulkan ‘rasa-muak’ sekaligus ‘jijik’ dalam membayangkan ‘adegan-adegan-absurb’ yang berusaha ditampilkan oleh para penulis ini ... anehnya meski Norwegian Wood hampir sebagian besar juga ‘mengungkapkan baik adegan ‘nyata’ maupun ‘impian’ yang aneh-aneh – tidak muncul kesan yang sama. 

Hingga menjelang akhir, hanya dua hal yang muncul di benakku. Yang pertama adalah rasa ‘kasihan’ pada para ‘penderita-penyakit-jiwa’ yang dimunculkan melalui rangkaian karakter yang unik-unik : gay-lesbian-frigid-dominator-sexual-complulsive hingga obsesif-compulsif. Akan tetapi dalam perjalanan sepanjang kisah yang bagaikan menaiki ‘roller-coaster’ emosional yang labil ini, sebuah kenyataan menyentak pikiranku : apa bedanya antara manusia normal dengan manusia tidak normal ? Coba simak dialog saat Toru mengunjungi institusi untuk pasien sakit jiwa....
“Apakah ia seorang dokter atau pasien?” | “Menurutmu yang mana?” | “Aku tak bisa membedakannya sama sekali. Tetapi toh ia tidak terlihat waras.” | “Ia dokter.” | “Kelihatannya kalau pasien dan staf ditukar posisinya seimbang, ya.” | “Betul sekali. Tampaknya kamu sudah mulai memahami sistem di dalam masyarakat. Yang waras dari kami ... Adalah kami tahu bahwa kami tidak waras.”
Hal kedua yang membuatku penasaran, mengapa penulis tidak mengungkap secara gamblang apa penyebab ‘penyakit’ yang diderita oleh para tokoh dalam kisah ini, seperti apa penyebabnya, mengapa hal tersebut terjadi, bagaimana pemulihan atau penyelesaiannya ? Semuanya diserahkan pada pemikiran dan kebebasan pembaca untuk berusaha menafsirkan makna dan pesan-pesan penting yang bisa diambil. Dan sekali lagi diriku terbentur dalam rangkaian pertanyaan baru yang bermunculan, bagai sebuah teori yang terjawab untuk memunculkan sebuah pertanyaan baru lainnya ... Hingga sebuah kalimat yang telah beberapa kali dicantumkan namun tak segera masuk dalam ‘benak-ku’ – kalimat yang pada intinya mengingatkan bahwa hitam dan putih adalah serupa tapi tak sama, Analisa dan logika memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan, namun jangan pernah lupakan untuk ‘berhenti’ dan menikmati ‘keindahan’ yang disajikan di sekeliling kita. Jika tidak mampu menyadari hal tersebut, maka kita tidak akan pernah “HIDUP / MATI” __ So, I just enjoy it this book, even most of them still gave me such huge confusing and unanswers questions. I gave 4 stars just for the ‘beautiful-works’ about honesty of the dark-side inside human-being.
“Kematian bukanlah faktor yang menetukan untuk mengakhiri Hidup. Kematian hanya merupakan salah satu dari banyak faktor yang membentuk Hidup. Kematian bukanlah lawan Kehidupan, tetapi Ada sebagai bagian darinya. Dan itu adalah suatu kebenaran.” [ p. 396 – 397 ]

[ more about this author, books and related works, just check on here : Haruki Murakami | Norwegian Wood (Novel) | Norwegian Wood (Movie Adaptation) | Norwegian Wood (Movie's Site) | Norwegian Wood (Song)on Wikipedia | on Goodreads ]

‘Norwegian Wood (This Bird Has Flown)’ Song Lyrics by Beatles
I once had a girl, or should I say, she once had me... 
She showed me her room, isn't it good, norwegian wood? 

She asked me to stay and she told me to sit anywhere, 
So I looked around and I noticed there wasn't a chair. 

I sat on a rug, biding my time, drinking her wine 
We talked until two and then she said, "It's time for bed" 

She told me she worked in the morning and started to laugh. 
I told her I didn't and crawled off to sleep in the bath 

And when I awoke, I was alone, this bird had flown 
So I lit a fire, isn't it good, norwegian wood.

[ source : Norwegian Wood - Beatles

Best Regards,




2 comments:

  1. Terima kasih atas reviewnya. Menarik. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, terima kasih telah berkunjung, ini pengalaman pertama dengan Haruki, ternyata lumayan suka :D

      Delete

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)