Translate

Showing posts with label Modern Drama. Show all posts
Showing posts with label Modern Drama. Show all posts

Saturday, April 20, 2013

Books "A WEREWOLF BOY"

Judul Asli : A WEREWOLF BOY
Text Copyright © 2012 Kim Mi Ri
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Juliana Tan & Iingliana
Cetakan I : April 2013 ; 208 hlm
Rate : 3,5 of 5
Sepanjang malam aku menunggu matahari terbit di luar jendela
Karena begitu pagi tiba, aku bisa bertemu dengannya
Terima kasih karena menggengam tangnku
Terima kasih karena menatap mataku
Terima kasih karena kau yang kunanti-nanti akhirnya tiba di sini
Sepanjang hari aku menunggu bulan muncul di langit
Karena begitu malam tiba, aku bisa berbicara denganmu
Jangan lupakan janji kita
Jangn lupakan rahasia kita
Jangan lupakan betapa jantungku berdebar keras
Ketika menatap matamu
Betapa aku mencintai senyummu
Alkisah di sebuah tempat terpencil di Korea, hidupnya seorang pria, seorang ilmuwan, menyendiri, tak pernah berhubungan dengan siapa pun termasuk tetangga terdekat yang hanya segelintir. Ia menjalani kehidupan pribadi yang sunyi dan sepi hanya ditemani kawanan serigala yang dikurung dalam sebuah gubuk di dekat rumahnya. Hingga pada suatu hari, tepatnya di awal musim gugur tahun 1963, mendadak sang ilmuwan terkena serangan jantung dan tewas tanpa ada seorang pun di sisinya, meninggalkan warisan serta rahasia yang tak diketahui oleh siapa pun.

Tiga tahun kemudian, di tempat yang sama, sebuah keluarga terdiri dari seorang janda beserta kedua putrinya, pindah ke tempat itu. Mereka baru saja mengalami tragedi besar, sang suami, ayah, kepala keluarga, meninggal dunia dan meninggalkan segala kesulitan serta kerumitan uang memaksa mereka harus pindah dari kota. Putri tertua bernama Kim Sooni – memiliki kondisi kesehatan yang memaksanya harus banyak beristirahat dan tidak bisa mengikuti kegiatan sekolah biasa. Si bungsu yang lincah serta tomboi bernama Kim Soon Ja, tidak terlalu peduli dengan perbedaan kondisi kehidupan yang mereka alami. Sedangkan sang ibu harus menguatkan diri guna membangun kembali keluarganya.

Sunday, March 31, 2013

Books "DREAMS OF JOY"



Books “IMPIAN JOY”
Judul Asli : DREAMS OF JOY
Copyright © 2011 by Lisa See
Penerbit Gradien Mediatama
Alih Bahasa : Martha Pratana
Editor : Mariani Sutanto & Ang Tek Khun
Desain sampul : Heavenly-illusioniz Studio
Cetakan I : Februari 2013 ; 520 hlm
Rate : 4 of 5
[ Review in Bahasa Indonesia & English ]

“Ma, aku tidak tahu lagi siapa diriku ini. Aku juga tak bisa memahami negeri ini lagi. Negeri ini telah membunuh papa. Aku tahu, Mama akan berkata bahwa aku ini orang yang sedang kebingungan dan aku ini goblok. Mungkin Mama benar, tetapi aku harus mendapatkan jawabannya. Barangkali Negeri Cina adalah rumahku yang sesungguhnya...” [ p. 14 – 15 ]
Kisah ini dibuka dengan sepucuk surat yang ditulis oleh Joy – gadis remaja yang baru saja mengalami tragedi dalam kehidupannya, dan kemudian mendapati bahwa kehidupan yang selama ini dijalaninya ternyata merupakan kebohongan semata. Joy menemukan bahwa dirinya bukan putri kandung kedua orang tuanya. Pearl – sang ibu yang membesarkan dirinya semenjak bayi sebenarnya adalah bibinya, sedangkan May – sang bibi justru merupakan ibu kandung Joy, yang hamil saat remaja dengan seorang seniman asal Cina, sebelum keduanya Pearl dan May melarikan diri ke Amerika. Ayah yang membesarkan Joy bukanlah ayah kandungnya, namun beliau meninggal dengan menggantung diri akibat tekanan dan ancaman dari pihak FBI yang menyelidiki keterkaitan dirinya dengan organisasi terlarang serta pergerakan komunis dari Cina. Penyesalan Joy serta rasa bersalah, membuatnya mengambil keputusan nekad, ia melarikan diri dari kediamannya di Los Angeles, Amerika dan terbang menuju negeri Cina, mencari ayah kandung yang tak pernah dikenalnya.

Wednesday, March 27, 2013

Books "THE BLUE DIARY OF MUMBAI"



Books ”THE BLUE DIARY OF MUMBAI”
Judul Asli : THE BLUE NOTEBOOK
Copyright © 2009 by James Andrew Levine, M.D., Ph.D.
Penerbit Salamadani
Alih Bahasa : Nuraini Mastura
Editor : Endah Wijayanti
Desain sampul : Tyo
Cetakan I : September 2012 ; 344 hlm

“Namaku Batuk. Aku seorang gadis lima belas tahun yang tinggal di Jalan Umum di Mumbai. Aku sudah tinggal di sini selama 6 tahun dan aku diberkahi dengan kecantikan dan sebatang pensil.”

Saat memilih buku ini dari rak etalase di toko buku, bayanganku tentang drama perjuangan anak gadis yang terseret dalam dunia pelacuran di wilayah India, menggugah keingin-tahuanku, apalagi sang penulis juga terkenal sebagai aktifis sosial dalam perjuangan hak-hak manusia di kawasan Asia, namun sembari membaca halaman demi halaman, sungguh sebuah kesan mendalam sekaligus mengerikan dan menyentuh, mewarnai sepanjang kisahnya dari awal hingga akhir.

Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, kisah ini merupakan jurnal pribadi gadis bernama Batuk, yang berasal dari keluarga miskin di wilayah India. Dilahirkan dari pasangan suami-istri yang berjuang mencari nafkah namun tak mampu mengimbangi dan memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin membesar, Batuk adalah salah gadis yang memiliki keistimewaan. Bukan saja ia memiliki paras yang cukup elok, ia juga memiliki kecerdasan serta kemauan keras demi memperoleh Impiannya di dalam dunia yang serba kekurangan dan penuh dengan kepahitan dan hal-hal negatif.

Books "AN ARTIST OF THE FLOATING WORLD"


Judul Asli : AN ARTIST OF THE FLOATING WORLD
Copyright © by Kazuo Ishiguro, 1986
Copyright © 2010 Penerbit Elex Media Komputindo
Alih Bahasa : Rahma Wulandari
ISBN : 978-602-02-0497-0 | 2013 | 226 hlm
[ Review in Bahasa Indonesia & English ]
“Sebuah kebahagiaan mendalam yang muncul dari keyakinan bahwa perjuangan seseorang telah diakui ; bahwa kerja kerasnya telah membuahkan hasil, keraguannya terhapuskan, semuanya menjadi sepadan dan bernilai – inilah kisah tentang seseorang yang telah mencapai sesuatu  yang  bernilai dan memperoleh pengakuan.” [ p.  223 ]
Kehidupan seorang manusia semenjak ia terlahir di dunia hingga tiba saatnya ia kembali ke asalnya – merupakan perjalanan unik yang memiliki jejak serta warna yang berbeda, antara satu dengan yang lain. Terlepas dari perbedaan ras, kondisi lingkungan, status ekonomi dan sosial, masing-masing memiliki kesempatan yang sama, yaitu menentukan sendiri pilihan akan jalan mana yang akan ditempuh dalam menjalani hari demi hari. Namun yang sering terjadi, manusia tidak mau meluangkan waktu untuk bersyukur atas kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kenikmatan dan kesuksesaan yang dialami. Bahkan acapkali senantiasa menuntut ‘hak’ diatas ‘kewajiban’ dan menyalahkan siapa saja atas kesalahan dan kegagalan yang dialami, alih-alih berusaha menerima tanggung jawab atas diri sendiri.

Books "WHEN WE WERE ORPHANS"



Books “Masa-Masa Kita Yatim Piatu”
Judul Asli : WHEN WE WERE ORPHANS
Copyright © Kazuo Ishiguro 2000
Penerbit : Elex Media Komputindo
Alih Bahasa : Linda Boentaram
Cetakan I : September 2012 ; 416 hlm 

Period : 1920 – 1958 | London, Inggris – Shanghai, Cina
Christopher Banks lahir dan besar di Shanghai, Cina pada awal abad 20. Namun ia menjadi anak yatim piatu pada usia 9 tahun, setelah kedua orang tuanya ‘menghilang’ tanpa jejak. Pihak berwenang mengirim dirinya menyeberangi lautan untuk tinggal dan menetap bersama bibinya di Inggris. Christopher menjalani kehidupan barunya, peradaban serta budaya yang berbeda, dan ia berhasil beradaptasi meskipun tidak masuk dalam kelompok populer. 

Setelah lulus dari Cambridge University, ia menjalani kehidupan baru yang tenang dan santai di kediaman pribadinya, sebuah flat mungil di wilayah Kensington. Pertemuan tak disengaja dengan  James Osbourne – teman lama dari sekolah pada musim panas 1923, memicu serangkaian kejadian yang membawa dirinya berjumpa dengan wanita unik bernama Sarah Hemmings – gadis menarik yang menjadi bahan gunjingan karena perilakunya yang tidak sesuai dengan tradisi kalangan terhormat. 

Pertemuan kedua kalinya dengan gadis ini menimbulkan rasa malu dan amarah pada diri Christopher. Dan ketika tahun berlalu, saat ia berada di puncak karirnya sebagai detektif swasta yang kampiun, Sarah Hemmings justru muncul dan ‘memaksa’ agar ia mau memberikan bantuan untuk memasuki pesta gala kalangan atas, dimana Christopher sudah pasti diundang karena kesuksesannya memecahkan berbagai kasus di Inggris. Christopher tak terlalu memperhatikan perjumpaan tersebut, hingga tiba saat pesta gala diadakan, dan disanalah, di lobby gedung, Sarah menanti dirinya – kunci masuk ke dalam acara eksklusif. Dan Christopher berhasil membalas perlakuaan Sarah dahulu terhadap dirinya, dengan menolak gadis itu di depan umum. 

Books "SAGA NO GABAI BAACHAN"



Judul Asli : SAGA NO GABAI BAACHAN
Copyright © 2001, 2004 Yoshichi Shimada
Illustration Copyright © 2004 Jiro IHA
Indonesian edition copyright © by Mahda Books
Penerbit : Kansha Books ( a division of Mahda Books )
Koordinator Penerjemah : Mikihiro Moriyama
Alih Bahasa : Indah S. Pratidina
Editor : Tim Kansha
Sampul : Iksana Banu
Isi : Husni Kamal
Cetakan I : Januari 2012 ; 320 hlm

“Nek, dua-tiga hari ini, kita makan kok hanya nasi ya, tanpa lauk?” Sambil tertawa terbahak-bahak, nenekku menjawab, “Besok nasi pun takkan ada kok.” Kami hanya bertatapan mata, kemudian kembali terbahak bersama.

Demikianlah kalimat pembuka kisah ini yang langsung memikat hatiku. Kisah yang semula kusangka sebagai kisah fiksi, ternyata merupakan semi biografi penulis tentang kisah masa kanak-kanaknya hidup bersama sang nenek di desa, karena sang ibu yang merupakan orang tua tunggal tak mampu membiayai kehidupan mereka di kota. Maka si kecil Akihiro di kirim untuk tinggal di desa. Keberangkatan Akihiro pun melalui ‘sandiwara’ seakan-akan ia diajak menemani mengantarkan sang bibi yang sedang berkunjung, kembali pulang ke desa. Dan sesaat kereta mulai berangkat, Akihiro didorong masuk ke dalam kereta api yang kemudian melaju, meninggalkan sang ibu yang menangis karena harus melakukan tindakan sedemikian rupa demi keselamatan hidup mereka bersama.

Kehidupan Akihiro di desa juga tidak mudah. Sang nenek yang bekerja sebagai pembersih di sekolah, seringkali tak memiliki uang yang cukup untuk hidup mereka berdua. Namun Akihiro belajar semenjak usia dini, bahwa kehidupan tidak sekedar mengandalkan uang, melainkan kecerdikan dan keberanian mengambil kesempatan. Semuanya berkat ajaran hidup serta teladan yang diberikan sehari-hari, hingga kemiskinan yang mereka alami bukan merupakan penderitaan semata melainkan proses kehidupan yang harus diperjuangkan. Beberapa saat lalu diriku sempat membaca kisah ‘ibuk’ karya Iwan Setyawan yang juga merupakan biografi perjuangan kehidupan seorang wanita, demi keluarganya, suami serta anak-anaknya. 

Books "HOMELESS BIRD"




Judul Asli : HOMELESS BIRD
Copyright © 2000 Gloria Whelan
Copyright © 2012 Penerbit Serambi Ilmu Semesta
Penerbit Atria (Imprint Serambi)
Alih Bahasa : Ida Wajdi
Editor : Jia Effendie & Fenty Nadia
Ilustrasi & Desain Sampul : Asa Laily & Aniza Pujiati
Cetakan I : September 2012 ; 182 hlm

Buku ini lumayan tipis dan dengan warna ‘blewah’ yang manis serta ilustrasi menarik, dan tema tentang budaya kehidupan kaum wanita di India, mengundang diriku untuk menelusuri lebih lanjut. Seperti juga A Single Shard karangan Linda Sue Park yang mampu memberikan suatu ‘kesan’ tersendiri bagi penyuka kisah-kisah berkualitas seperti diriku, maka Homeless Bird ini juga memberikan pesan yang tak mudah dilupakan, di luar praduga bahwa buku setipis ini mampu menyajikan kisah kehidupan dramatis di dunia nyata.  

Ini adalah kisah tentang Koly, gadis cilik yang baru berusia 13 tahun namun sudah harus menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga, jauh dari sanak keluarganya. Sebagaimana kehidupan masyarakat India, seorang putri dalam suatu keluarga bisa menjadi beban serta aib jika tak mampu menarik minat keluarga lain untuk mengambilnya sebagai seorang istri bagi putra-putra mereka. Dan beban itu semakin bertambah saat dua keluarga setuju untuk menikahkan putra-putri mereka, beban yang dipikul oleh pihak wanita karena mereka harus ‘membayar’ sejumlah mas kawin kepada pihak keluarga pria. 

Books "GADIS PANTAI"



Judul Asli : GADIS PANTAI
Copyright © by Pramoedya Ananta Toer 2003
Penerbit Lentera Dipantara
Desain sampul : Tugas Suprianto
Cetakan VII : September 2011 ; 272 hlm 

Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris.Detik itu ia tahu : kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup. [ p. 12 ]

Gadis Pantai berusia 14 tahun ketika ia diambil sebagai selir seorang pembesar Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Semua penduduk desa nelayan menganggapnya beruntung karena terpilih dari sekian banyak gadis-gadis kalangan bangsawan. Namun Gadis Pantai ketakutan dan tak menyukai bahwa ia harus hidup terpisah dari keluarganya, karena kaum ningrat tidak boleh hidup berdampingan dengan golongan rakyat jelata. Hidup dalam gelimang harta benda serta tak boleh lagi bekerja agar kulitnya yang kuning langsat semakin putih dan halus, segala sesuatu disiapkan oleh para pelayan, bisa memperoleh apa pun yang diinginkan, itu adalah Impian setiap orang, maka sungguh bodoh jika menolak rejeki di depan mata – demikianlah pandangan umum.

“Perempuan ini diciptakan ke bumi, Mas Nganten, barangkali memang buat dipukul lelaki. Karena itu jangan bicarakan itu, Mas Nganten. Pukulan itu apalah artinya kalau dibandingkan dengan segala usahanya buat bininya, buat anak-anaknya.” [ p. 95 ]

Books "ibuk,_"



Judul Asli : ibuk,
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Editor : Mirna Yulistianti
Proof Reader : Dwi Ayu Ningrum
Desain & Ilustrasi sampul : Itjuk Rahayu
Setter : Ayu Lestari
Cetakan I : Juni 2012 ; 296 hlm 

Pertama kali mendengar judul ini, sempat kusangka merupakan drama parodi plesetan dari ‘e-book’ namun setelah ‘membaca’ judulnya lebih cermat, ternyata merupakan kalimat dari sebuah panggilan akrab bagi seorang ibu, panggilan yang sangat dikenal oleh masyarakat Jawa yaitu ‘ibuk, __’

Dalam waktu sebulan setelah rilis, buku ini bukan hanya memperoleh respons yang sangat positif dari kalangan pembaca, bahkan mengalami cetak ulang dalam tempo hanya sebulan. Rasa penasaran sempat menggugah keinginanku untuk segera membuka buku ini dan membaca kisahnya, namun karena kesibukan dan lain sebagainya, akhirnya baru pada bulan ini diriku berusaha menyempatkan diri untuk berkelana dalam kisah yang memperoleh nominasi Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2012 ini. 

Sebuah kisah tentang seorang wanita bernama Tinah dan seorang pria bernama Sim, yang terikat jiwa satu sama lain dan bertekad menjalin bahtera rumah tangga bersama, sehidup dan semati, dalam kesenangan maupun kesusahan. Hidup seadanya dari nafkah Slim sebagai kenek angkot hingga akhirnya berhasil memiliki angkot sendiri, ditambah dengan kelahiran putra-putri mereka, Tinah – sang gadis lugu yang tidak tamat SD, tak pernah mengeluh hanya berusaha sekuat tenaga membantu sang suami mengatur rumah tangga dan mencukupi kebutuhan masing-masing anggota keluarganya. 

Books "GADIS KRETEK"



Judul Asli : GADIS KRETEK
Penulis : Ratih Kumala
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Editor : Mirna Yulistianti
Desain & Ilustrasi Isi : Iksaka Banu
Cetakan I : Maret 2012 ; 276 hlm 

Awal Maret kemarin salah seorang teman menunjukkan sebuah ‘cover’ sampul buku yang akan rilis, sekilas kukira kisah tentang Ibu Kartini (maklum dari hanya melihat sekilas), karena suka dengan kisah sejarah, maka ku-iyakan saja pre-order buku ini. Dan ternyata saat menerima bukunya, lho judulnya “Gadis Kretek” ...berarti pasti tentang rokok – sesuatu yang sangat tidak aku sukai. Tetapi ada pepatah mengatakan ‘don’t judge by its cover’ atau ‘jangan menilai hanya berdasarkan tampilan luarnya’, selidiki dahulu kebenaran isinya, maka setelah sekian bulan terlupakan, kuraih buku ini dan memulai kisahnya ...

Ternyata sangat menarik !!! Walau tidak pada awal-awal kisah, justru menjelang separuh buku, kisah tentang pergulatan dan perjuangan hidup manusia dengan menggunakan latar belakang budaya serta sejarah bangsa Indonesia, semakin mencekam dengan ketegangan sekaligus pembelajaran --- setidaknya diriku belajar tentang hal-hal baru, tentang sejarah pembuatan rokok, walau produknya tak kusukai secara pribadi, tapi proses yang dilakukan pasti ‘mengundang selera’ kebanyakan orang untuk menyimak lebih dalam. 

Books "CANTING"



Judul Asli : CANTING
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Desain & Ilustrasi sampul : Wedha
Cetakan I : Oktober 2007 ; 408 hlm 

Kisah dibuka dengan kehidupan di Ndalem Ngabean Sestrokusuman – kediaman Raden Ngabehi Sestrokusuma, atau yang dikenal sebagai Pak Bei, pengayom penduduk setempat, juragan batik yang memiliki 112 buruh batik beserta angggota keluarganya. Namun suasana pada pagi hari itu sedikit berbeda dengan hari-hari biasa. Para buruh batik diliburkan, dan Bu Bei tidak berangkat ‘kulakan batik’ di Pasar Klewer, alasannya Pak Bei sedang sakit. Alasan sebenarnya Bu Bei ternyata sedang mengandung. Masalahnya ia sudah terlalu tua untuk hamil kembali. Bu Bei sudah berusia 32 tahun saat itu. Anak-anak mereka sudah besar-besar. Apa ‘omongan’ orang-orang jika tahu tentang hal ini. Dan bagaimana tanggapan Pak Bei atas kehamilan yang tak disangka-sangka ini ... 

Bu Bei sudah menikah saat berusia 14 tahun. Nama aslinya Tuginem, seorang putri rakyat biasa, yang tak bermimpi dipersunting oleh Den Bei Daryono – putra sulung Ngabean, keluarga priyayi. Pernikahan antara keduanya, menimbulkan berbagai masalah. Keluarga mempelai wanita diangkat derajat serta martabatnya, bahkan desa asalnya mendapat kehormatan karena salah satu penghuninya menjadi anggota keluarga Ngabean. Namun bagi keluarga mempelai pria, hal ini merupakan ‘aib’ yang menjadi pembicaraan serta kasak-kusuk kerabat dalam. Tuginem harus banyak belajar untuk menjadi sosok panutan dan pasangan yang pantas bagi Den Bei Daryono, apalagi semenjak ia menyandang panggilan Bu Bei. 

Books "BORN UNDER A MILLION SHADOWS"



Books "DALAM SEJUTA BAYANGAN"
Judul Asli : BORN UNDER A MILLION SHADOWS
Copyright © by Andrea Busfield
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Septina Ferniati
Editor : Rini Nurul Badariah
Cover by Eduard Iwan Mangopang
Cetakan I : Mei 2012 ; 376 hlm 

Sinopsis :
Fawad – bocah laki-laki berusia 11 tahun adalah salah satu dari sekian banyak penduduk Afganistan yang mengalami penderitaan bertahun-tahun. Hidup berdua dengan sang ibu yang harus bekerja sebagai pembersih di kediaman orang-orang kaya, Fawad tahu bahwa ia juga harus membantu dengan menawarkan jasa di Chicken Street pada para turis asing. Apalagi mereka berdua menumpang di kediaman bibi Fawad, saudara ibunya. Sebuah kediaman kecil dan sempit, apalagi diisi oleh sang bibi, suaminya serta anak-anaknya, tempat yang kotor dan penuh sarang penyakit. Namun hal itu jauh lebih baik daripada hidup terlantar di jalanan. 

Fawad masih ingat akan kisah-kisah masa lalu, kisah-kisah saat kehidupan kedua orang tuanya masih bahagia. Mereka menikah dan memiliki putra pertama bernama Bilal. Tiga tahun kemudian, pasukan Rusia meninggalkan Afghanistan setelah kalah perang melawan pasukan Mujahidin. Kemudian dalam masa transisi perpindahan kekuasaan yang penuh gejolak serta keributan, masuklah kaum Taliban yang memberikan ‘aturan-aturan’ baru bagi penduduk Afghanistan. Dan pada saat itu lahirlah Mina – putri satu-satunya dan kakak Fawad. Menyusul kelahiran Yosef beberapa tahun kemudian, lalu terakhir Fawad lahir. Yosef meninggal sewaktu kecil karena digigit seekor anjing. Kematian Yosef disusul oleh kepergian sang ayah yang mengikuti pasukan pemberontak melawan kekuasaan rezim Taliban. Dan beliau tewas, meninggalkan jandanya yang cukup cantik, dua orang putra dan putri yang masih kecil, serta seorang bayi, berjuang mempertahankan hidup dengan penuh ketakutan akan bencana lain. 

Books "VEIL OF ROSES"



Judul Asli : VEIL OF ROSES
Copyright © by Laura Fitzgerald
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Rahmani Astuti
Editor : Rini Nurul Badaria
Cover by Marcel A.W.
Cetakan I : Mei 2012 ; 376 hlm 

Saat pertama kali melihat judul novel yang akan rilis ini, diriku tergelitik untuk mencari tahu lewat sinopsis dan review dari luar, ternyata cukup untuk menarik perhatian diriku untuk membeli dan membacanya ... dan rekan-rekan sesama penikmat buku, boleh kusampaikan terlebih dahulu bahwa harapanku akan bacaan yang bukan saja menarik tapi juga mampu menggerakkan ‘sesuatu’ di dalam hatiku, benar-benar terpenuhi ...

Sinopsis :
Kisah ini tentang gadis bernama Tamila Soroush yang tinggal di Republik Islam Iran bersama kedua orang tuanya. Dilahirkan sebagai seorang wanita yang sangat dibatasi kebebasan serta pemikirannya secara hukum di negara tersebut, tidak menghalangi kedua orang tua Tamila dalam memberikan pendidikan yang cukup bagi anak gadisnya. Kedua orang tua Tamila menempuh pendidikan di Amerika sekitar tahun 1970-an, dan Tamila lahir serta dibesarkan di sana hingga usia 2 tahun, ketika keluarganya memutuskan pulang ke negara asal pada masa gejolak perebutan kekuasaan dari Shah Iran ke Ayatollah Khomeini. Berharap akan perubahan suasana dan ‘udara segar’ pada pergantian rezim itu, justru mendapati bahwa mereka berdua tak akan pernah bisa keluar dari Iran, paspor mereka yang bertanda “Amerika” ditandai dan ditahan, harapan serta impian akan hidup yang lebih baik perlahan mulai redup. 

Books "BOTCHAN"



Books “BOTCHAN”
Judul Asli : BOTCHAN
Copyright © by Natsume Soseki
English Translation by Alan Turney
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Indah Santi Pratidina
Cetakan ke-01 : Februari 2009 ; 224 hlm
Cover by Martin Dima 

Sinopsis :
Botchan adalah sosok laki-laki yang mengalami banyak hal dalam kehidupan pribadinya. Semenjak kanak-kanak, ia tak pernah lepas dari ‘masalah’ – sehingga membuat dirinya dianggap anak berandalan yang tak punya masa depan.

Baik ayah, ibu maupun kakaknya, tak pernah ada yang menyukai maupun memahami semua tingkah lakunya. Hanya seorang wanita tua, pelayan keluarga mereka, yang menyayangi dirinya serta mampu melihat bahwa dibalik semua ‘keributan dan masalah’ yang diperbuat – yang ada hanyalah sosok manusia yang jujur, apa adanya, sifatnya yang tak suka berpura-pura serta bertindak secara spontan inilah yang justru sering membuatnya menghadapi masalah. 

Sejalan dengan waktu, bocah tersebut tumbuh menjadi pria dewasa, jauh dari keluarganya yang ‘membuangnya’–hingga saat terakhir berbekal sebagian warisan keluarga yang diberikan kakaknya, dia memutuskan secara spontan menerima tawaran pekerjaan sebagai guru di daerah pelosok. Kiyo – sang mantan pelayan yang dianggapnya sebagai satu-satunya kerabat yang mengasihinya, mengantar ‘kepergiaan-nya’ dengan pesan agar berhati-hati dalam menjaga tingkah-lakunya yang suka tanpa ‘tedeng aling-aling’ alias blak-blakan dan berusaha beradaptasi di daerah baru yang akan dituju.