Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Wednesday, February 13, 2013

Books "SILENCE"



Books “HENING”
Judul Asli : SILENCE
Copyright © 1996 by Shusaku Endo
Translated from Japanese Edition by William Johnston
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Cetakan ke-01 : Desember 2008 ; 304 hlm
Cover by Satya Utama Jadi

[ Review in Bahasa Indonesia & English ]

Sinopsis :
Dengan latar belakang Jepang pada abad ke-17, periode yang dikenal sebagai zaman Edo atau saat kekuasaan pemerintahan Jepang dibawah klan Tokugawa, kisah ini dibuka dengan kehebohan di Roma atas berita bahwa salah satu perwakilan Serikat Yesus dari Portugal yang ditugaskan di Jepang telah menjadi ‘murtad’ ( =mengingkari agamanya ) setelah menjalani hukuman penyiksaan di Nagasaki. Nama perwakilan Yesuit Portugal tersebut adalah Christovao Ferreira - seorang misionaris berpengalaman yang teramat dihormati & telah tinggal selama 33 tahun di Jepang sebagai provincial ( =jabatan tertinggi ) di mana sepak terjang serta karya-karya menjadi inspirasi banyak imam-imam lain serta para pengikut setia.

Jepang yang saat itu dalam kekuasaan pemerintahan Lord Ieyasu ( pengganti Lord Hideyoshi) memerintah dengan tangan besi sehingga rakyat kecil menderita akibat pajak-pajak tinggi yang berlaku. Satu-satunya yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya adalah penghentian penyebaran agama Kristen yang sempat tumbuh subur di kalangan masyarakat Jepang lewat pengaruh penyebaran oleh imam-imam Kristen Portugal. Bahkan Lord Ieyasu bertindak lebih ekstrim dengan memburu para pengikut / penganut agama tersebut untuk dihukum mati / disiksa untuk menjadi ‘murtad’ – baik orang Jepang sendiri maupun para imam itu sendiri. 




Pengaruh Kristiani awalnya datang lewat jalur perdagangan yang dibawa kaum Portugal & Spanyol, berkembang pesat pada sekitar tahun 1570-1614, lebih karena disebabkan kebutuhan akan jalur perdagangan sutra dengan kapal-kapal hitam Macao. Dan Lord Ieyasu sebagai Tokugawa pertama pada tahun 1614 mengeluarkan perintah resmi hukuman mati bagi para pengikut Kristiani di Jepang. Lord Ieyasu telah membuka & menjalin hubungan dengan pihak Barat lainnya, yaitu bangsa Inggris & Belanda – yang telah sekian lama menjadi seteru bangsa Portugal serta Spanyol dalam perebutan kekuasaan akan wilayah-wilayah perdagangan baru ( dalam hal ini wilayah Jepang yang menjadi ajang perebutan ).

[ source ]
Pengaruh larangan serta penumpasan kaum Kristiani di Jepang tidak membuat gentar para pastur yang bertekad menyebarkan agama Kristen di lahan Jepang. Walau harus melalui rintangan serta perjalanan yang sangat berat & lama, beberapa pastur bertekad menuju ke Jepang. Diantara orang-orang tersebut, ada 3 orang pastur dari Yesuit Portugal yang bertekad meneruskan penyebaran agama & juga mencari tahu kebenaran & membersihkan nama Christovao Ferreira-guru serta mentor yang mereka sayangi & hormati. Ketiga orang tersebut bernama Fransisco Garrpe, Juan de Santa Marta dan  Sebastian Rodrigues.

Kisah ini nantinya akan berpusat pada perjalanan Sebastian Rodrigues setibanya di Jepang. Bagaimana rekannya Juan de Santa Marta meninggal di Macao karena penyakit yang diperoleh akibat perjalanan yang sulit dan berbahaya, perpisahan dengan Fransisco Garrpe setelah selama beberapa bulan mereka bersama-sama bersembunyi di kawasan desa nelayan Tomogi, Jepang sambil melayani & memberikan bimbingan pada umat Kristiani desa tersebut. Bagaimana setelah berpisah, ia ditangkap oleh pasukan di bawah perintah Inoue - gubernur Chikugo, yang membuat cara penyiksaan mengerikan pada pengikut Kristiani yang tidak mau  menyerah.

Rodrigues dapat ditangkap dengan mudah akibat pengkhianatan Kichijiro - orang Jepang yang mengaku sebagai pengikut Kristiani dan telah menjadi pemandu perjalanan dari Macao menuju Jepang. Jika Rodrigues membayangkan penyiksaan sadis yang akan dialaminya sebagaimana kisah-kisah nasib para misionaris sebelumnya, maka dirinya dapat dikatakan lebih beruntung hanya ditahan tanpa siksaan fisik yang sangat berat, bahkan ia memperoleh kesempatan untuk melayani para pengikut Kristiani yang menjadi tawanan di tempat tersebut. Setelah Rodrigues cukup mengenal & dekat dengan para pengikut itu, mulailah siasat keji (yang terlambat diketahuinya) dimana pejabat pemerintahan Jepang melakukan indoktrinasi agar Rodrigues melepas keyakinannya. Mulai dengan bicara secara baik dan sopan, hingga kecaman dan ancaman jika ia tidak mau menyerah maka akan dipilih korban untuk disiksa / dimusnahkan dari orang-orang Jepang pengikut Kristiani yang dilayani olehnya.

[ source ]
Perang batin berkecamuk dalam hati Rodrigues, terutama setelah menyaksikan begitu banyak korban jiwa tak bersalah yang dikorbankan demi pertahanan keyakinan dirinya – sementara Tuhan yang dikasihi dan diperjuangkan, tak lagi terdengar olehnya, seakan ‘membisu / silence’ tak peduli akan nasib umatnya yang menderita.

Kegoncangan jiwa yang dialami Rodrigues semakin menusuk setelah ia menyaksikan kematian Garrpe saat berusaha menyelamatkan pengikut-pengikut Kristiani yang sengaja dikorbankan demi memberi pelajaran bagi dirinya. Apalagi melalui kecerdikkan & siasat licik Inoue, akhirnya ia dipertemukan dengan guru yang dihormatinya, Pastur Christovao Ferreira yang telah menjadi pendeta Buddha bernama Sawano Chuan yang memiliki istri & anak.

Dan pada akhirnya, Pastur Sebastian Rodrigues dihadapkan kembali pada fumie (=lempengan gambar suci Kristus / Bunda Maria) dan demi keselamatan jiwa-jiwa tak berdosa umat Kristiani di Jepang, ia harus menginjak-injak fumie tersebut sebagai simbolisasi akan penyangkalan keyakinan dirinya sebagai umat Kristiani. Keputusan apa yang akan diambil oleh Rodrigues – suatu tindakan yang mengejutkan !!!

Kesan :
Perkiraan awal tentang isi buku ini agak meleset dari dugaan. Dari sinopsis yang tercantum, terbayang akan kisah penuh petualangan yang terkait dengan sejarah ( apalagi setelah selesai baca The Last Concubine-nya Lesley Downer atau mirip dengan Musashi-nya Eiji Yoshikawa ).

Kisah ini lebih banyak berisi pergulatan serta curahan pemikiran Sebastian Rodrigues sebagaimana misionaris baru yang memiliki idealisme serta semangat tinggi guna menyebarkan karya Kristus di wilayah dengan medan yang sulit. Sebanyak apa pun persiapan fisik maupun mental yang telah dilakukan ternyata tak dapat mengalahkan kenyataan yang sangat berbeda – terutama bagaimana mempertahankan & meningkatkan keimanan masyarakat Jepang akan Kristianitas, jika demi mempertahankan apa yang ada dalam diri sendiri sulit untuk dilakukan.

[ source ]
Kisah-kisah tentang metode penyiksaan terhadap orang-orang yang nantinya dianggap sebagai ‘martir’ dalam memperjuangkan kebebasan serta keyakinan mereka telah sering dikumandangkan. Seperti penyiraman air mendidih pada tobuh para tahanan ( para tentara Nazi juga menggunakan metode yang mirip pada tahanan Yahudi, berupa penyiraman air dingin pada tahanan yang ditelanjangi pada musim dingin yang ganas ), atau metode Inoue yang sangat ditakuti : korban digantung terbalik ke dalam lubang yang berisi kotoran manusia setelah bagian belakang telinga dilukai hingga darah menetes menutupi wajah korban. Dan pada kasus tokoh Sebastian Rodrigues, agak sedikit berbeda, karena bukan dirinya sendiri yang mengalami penyiksaan namun teman serta umatnya yang disiksa sampai dirinya mau menyatakan menyerah dan mengingkari keyakinannya.

Yang agak menarik adanya tokoh Kichijiro yang sejak awal digambarkan sebagai orang yang licik dan pengecut atau ibarat Yudas jika menurut pemikiran Rodrigues. Yudas, salah satu murid pilihan Yesus yang justru mengkhianati Yesus. Dan sungguh ironis bagaimana Rodrigues mengumpamakan penderitaan dirinya sebagaimana yang dialami oleh Yesus menjelang kematiannya di salib – apalagi di saat-saat terakhir dengan dalih menyelamatkan nyawa orang lain akhirnya Rodrigues mengikuti jejak Ferreira ( yang memang ditugaskan membujuk Rodrigues ), dan pada akhirnya Rodrigues menemukan dirinya tak berbeda jauh dengan Kichijiro …

Lewat pengantar yang ditulis oleh William Johnston sebagai penerjemah kisa ini ke dalam bahasa Inggris, gambaran tentang kondisi Jepang pada jaman tersebut dapat memberikan bayangan lebih akurat tentang pergulatan serta perjuangan orang-orang yang seakan tenggelam dalam sejarah dunia. Dan lewat tokoh Rodrigues yang idealis, seakan penulis hendak menyampaikan bahwa dalam menghadapi medan yang berbeda ( dalam kasus ini Jepang ) maka para perintis seharusnya juga melakukan pendekatan secara raikal bukan sekedar mengikuti pedoman masa lalu – dan hal ini juga berlaku pada jaman sekarang dimana keimanan serta konflik semakin bertambah, maka perkembangan pengaruh Kristiani bukan sekedar sebagai agama ataupun agenda politik ( yang menjadi akar permasalahan dalam kisah ini dipicu oleh perebutan kekuasaan antara pihak Kristen Inggris dan Belanda yang mengakui Raja / Ratu sebagai penguasa tertinggi di dunia sedangkan Portugal dan Spanyol mengikuti aliran Roma yang mengakui Paus sebagai wakil Tuhan di dunia ), namun juga sebagai pedoman dalm menjalani kehidupan yang lebih baik bagi setiap individu.

Akhir kata, sebagai orang awam dan juga umat Kristiani, tanpa bermaksud memberikan pandangan yang memberikan ‘judgement’ - maka novel fiksi ini dapat dinikmati layaknya perenungan penuh problematic ala Paulo Coelho, filosofi yang digambarkan oleh Pearl S. Buck ( seperti kisah Madame Wu ) dengan gaya bahaya lugas dan terus terang ala Shusako Endo. Dan pada akhirnya, keputusan serta pemikiran terakhir menjadi milik para pembaca ….

Tentang Penulis :
Shusaku Endo dilahirkan pada tahun 1923. Ketika dia berumur tiga tahun, keluarganya pindah ke Manchuria. Sewaktu masih duduk di sekolah dasar, dia mengedit dan menerbitkan surat kabar bersama beberapa temannya. Ketika kedua orangtuanya bercerai, dia kembali ke Jepang bersama ibunya, dan pada tahun 1934 dia dibaptis menjadi Katolik. Setelah lulus dari fakultas sastra Prancis di Keio University, dia mendapt beasiswa selama dua setengah tahun di Lyon – pengalaman ini kelak dituangkan ke dalam beberapa novelnya. Salah satunya Shiroi Hito ( The White Man ), mendapat penghargaan bergengsi Akutagawa Prize, yang pertama dari sekian banyak penghargaan yang kelak diperolehnya dalam dunia sastra. Sedangkan Silence ( Chinmoku ) turut memperoleh penghargaan Tanizaki Prize pada tahun 1966. Karya-karyanya telah banyak diterjemahkan di seluruh dunia.

Conclusion :
This is my first reading on Shusako Endo’s and surprisingly I really like it, probably there’s some historical part in this stories. Sets on 17th Century in Japan, while Tokukawaga Clan still hold control of Japan’s ministry, and among them the new religion with their foreign culture starting to spread-up in society. Japan in danger situation, crossed between all foreign country who try to gets their influence in very rich country in Asia. They even using religion as one of powerful political ways to spread influence, gets more follower and holding the keys into the bigger assets, like on economic and trading. Between England and Royal Dutch, Spain and Portugal, each of them had different agenda. The game is makes others looks ‘bad’ in the eyes of Japan’s ministry.

With this background, the author tells a story about a man who had mission to makes people of Japan become true-beliver of one God, and left their ancient belief on Gods and Demons on all the superstitious. But just like a pioneer, the theory rather simple than the actual things. How do you change someone’s mind-set that already ‘in-there’ for as long as they live ? Aside than primitif-though, the author puts additional interest on how each characters had to face their own fear, struggling with their counsence, while the choice between live by they belief but murder by the opposite people, or simply betrayed the truth and belief, so they can live another days. What’s makes me really stunned, is how the author use the same situation and conflict, just like when Jesus Christ had to came among peoples, who lost their belief, falling into sins, and after hard-works, finally there’s several pupil who becoming his follower ... until some of them become traitor, who known as Judas Iskariot. Just like reading histories all over again – and I love it !! 

[ more about this author, book and related adaptations, check on here : Shusako Endo | Silence | Movies Adaptation

Best Regards,


No comments:

Post a Comment

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)