Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Friday, February 15, 2013

Books "THE KEY"



Books “THE KEY”
Judul Asli : KAGI
By Jun’ichiro Tanizaki
Copyright © 1956 by  The Heirs of Jun’ichiro Tanizaki
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta 
Alih Bahasa : Rahmani Astuti
Editor : Dian Pranasari & Adi Toha
Desain Cover : Eri Ambardi
Cetakan I : Juni 2012 ; 200 hlm  

Melihat preview di sampul belakang buku ini, sudah dapat kuraba, kira-kira bagaimana kisah tentang kehidupan rumah tangga yang aneh dan unik, dan seperti sebagian besar karya sastra Jepang yang mampu mengungkap sisi gelap dari manusia, diriku bersiap-siap menghadapi berbagai keanehan dalam kisah buku setebal 200 halaman ini...

Dan ternyata perkiraanku meleset sedikit, keanehan yang disajikan merupakan kenyataan yang memang banyak terjadi di dalam kehidupan rumah tangga yang tersembunyi di balik kedok para penghuninya. Dan mereka adalah penggambaran sosok-sosok manusia modern yang tak mampu berkomunikasi secara verbal dan terbuka, tentang kebutuhan masing-masing, tentang perasaan serta kerinduan dan kebencian, hingga pada akhirnya setiap orang melakukan ‘sesuatu’  demi menyalurkan hasrat yang sekian lama terpendam...

Kisah ini tentang seorang profesor berusia 55 tahun dengan istrinya yang bernama Ikuko 44 tahun, dikarunia seorang putri bernama Toshiko yang telah beranjak dewasa.  Kehidupan rumah tangga mereka tampak normal, namun ternyata di dalam hubungan pribadi masing-masing, terjadi kesenjangan yang bukan saja oleh jarak usia tapi juga oleh tiadanya komunikasi satu sama lain. Menjelang usia paro-baya, sang profesor mengalami kekhawatiran bahwa istrinya yang masih menarik  pada usia tersebut, tak akan mau memahami hasrat serta gairah aneh yang semakin sering muncul menjelang usia senja sang suami. 


Sang suami menginginkan suatu permainan, semacam ‘fore-play’ dalam aktifitas seksual mereka. Namun sang istri yang berpegang pada adat serta prinsip, tak mau langsung mengikuti permintaan suaminya. Yang tidak kalah aneh, alih-alih saling berusaha membicarakan permasalahan itu, keduanya justru melakukan semacam ‘curhat’ pada buku harian masing-masing. Dimulai dari sang suami, yang menuliskan berbagai hasrat dirinya serta pengharapan pada sang istri lewat buku harian yang rajin ditulis, tapi kemudian ia kunci dan disembunyikan. Namun pada suatu hari, ini berkeinginan agar sang istri mau ‘mengintip’ curahan hatinya lewat buku harian itu. Maka ia dengan sengaja meninggalkan kunci buku hariannya di tempat yang bisa terlihat oleh sang istri. 

Sang istri, yang sudah mengetahui bahwa suaminya diam-diam membuat buku harian, merasa tak peduli, karena selama bertahun-tahun mereka menikah, ia tak pernah terlalu ambil peduli dengan pria yang tak pernah ia cintai. Dan tanpa pengetahuan suaminya, ia juga menulis pikirannya dalam buku harian yang juga ia sembunyikan dengan cermat. Jika sang suami menuliskan tentang hasrat untuk berhubungan lebih dalam dengan sang istri, maka dalam buku hariannya, sang istri justru mengungkapkan rasa ‘jijik-nya’ akan saran serta permintaan sang suami yang dirasanya aneh. Ia tahu bahwa suaminya menganggap dirinya dingin dan hipokrit karena senantiasa berpegang pada prinsip kuno. Padahal jauh di dalam hatinya, ia justru wanita yang sangat ‘bergelora’ dan memiliki hasrat tinggi. Tapi ia ingin sang suami bisa memberikan suatu insentif yang mampu menarik gairahnya, bukannya terpaku pada berbagai gaya aneh yang ia selalu usulkan. 

Nah, sudah cukup menarik sekaligus aneh dan menggelikan kisah ini bukan ? Jangan berhenti sampai di sini, karena semakin lama kejanggalan akan perilaku mereka semakin menjadi-jadi. Dimulai dengan kehadiran seorang pria muda bernama Kimura, yang dapat dikatakan sebagai teman keluarga, sehingga tak aneh jika ia sering bertandang. Semula sang suami menduga pria ini berusaha mendekati putrinya Toshiko, namun anehnya sang putri senantiasa menghilang, atau hanya bersedia menemani sejenak kemuadian kembali menghilang ke kamarnya. Maka Kimura lebih sering bercengkrama dengan sang ibu / istrinya, Ikuko. Tiba-tiba digambarkan bahwa sang profesor menaruh rasa curiga serta kecemburuan terhadap sang istri akan kedekatannya dengan Kimura. Namun kehadiran pria itu tetap diterima dan berjalan dengan rutin. 

[ source ]
Dan suatu hari, saat mereka minum-minum hingga mabuk berat (sdh merupakan hal biasa bagi mereka bertiga, kecuali sang putri Toshiko yang tak pernah menyukai acara minum-minum), yang pada akhirnya membawa pada kejadian awal yang akan merubah kehidupan awal keluarga ini. Ikuko mabuk berat hingga pingsan dan nyaris koma di kamar mandi. Dalam rangka menyelamatkan nyawanya, entah bagaimana timbul pemikiran serta hasrat aneh pada benak sang profesor. Dalam ritual penyelamatan yang melibatkan bantuan Kimura (termasuk melepas pakaian dan memijat seluruh tubuh agar memperlancar peredaran darah Ikuko yang pingsan), ia memperoleh ide untuk melakukan ritual yang sudah lama bercokol dalam benaknya. 

Dalam kondisi tak sadar, Ikuko terbaring di kamar tidurnya, ditelanjangi dan dipandangi oleh sang suami yang tak pernah melihat keseluruhan tubuh sang istri selama ini (ini salah satu prinsip yang dipegang oleh Ikuko, ia tak mau terlihat dalam kondisi terang saat mereka berhubungan) ... kemudian yang lebih ‘menakjubkan’ sang suami melakukan berbagai eksplorasi serta eksperimen terhadap tubuh istri yang pingsan ini .... (jangan terburu ‘tercenung’ atau ‘muntah’ – karena ini belum selesai). Bak pembuatan film porno, sang suami menyorotkan lampu-lampu terang pada tubuh sang istri. Pengalaman pertama ini membuat dirinya ‘ketagihan’ sehingga pada periode berikutnya, ia sengaja membuat sang istri mabuk dan pingsan kembali guna melakukan percobaan baru. Hingga ia menemukan cara-cara lain, memotret berbagai pose istrinya yang sedang telanjang dalam keadaan tak sadar. 

Well, bagaimana, apakah sudah cukup menurut Anda hal-hal seperti ini ? Apakah Anda bisa men-tolerir perilaku yang notabene sebenarnya juga menjangkiti beberapa pasangan yang sudah menikah ? Ada yang menyebut mereka gila seks, mungkin juga memang ada sebagian orang mengidap kelain seperti ini. Namun janganlah Anda menghakimi kisah ini seperti terlebih dahulu, karena diantara rasa jijik sekaligus merinding, ada juga rasa penasaran pada diriku, apakah memang penulis yang menurut referensi mampu menghadirkan karya sastra yang terkenal dan salah satunya adalah novel ini, ternyata hanya merupakan kisah tentang pasangan setengah baya yang gila seks belaka ? Maka kucoba meneruskan bacaan ini hingga halaman terakhir ... untuk mendapatkan ‘kejelasan’ apa makna kisah ini sebenarnya ?

[ source ]
Masuknya peran Kimura di awal, ternyata menjadi semakin dalam karena melalui dirinya sang profesor memperoleh jalan untuk menemukan gairah yang dirasa sudah hilang menjelang usia senjanya. Namun hal ini juga berimbas pada terbukanya hubungan terlarang lainnya, antara sang istri dan pemuda itu. Yang lebih aneh, justru sang suami yang ‘sengaja’ mendorong sang istri serta pemuda itu untuk saling berhubungan (kecemburuan sang suami di awal kisah ternyata memang tidak beralasan, namu  pada akhirnya, seperti pepatah mengatakan ‘bisa terjadi karena terbiasa’ – nah, selingkuh aneh pun terjadi). Peran putri pasangan ini yang paling janggal kurasakan, bagaimana ia menyikapi perilaku sang ayah serta sang ibu, bahkan pemuda yang semula diharapkan menjadi pasangannya. 

Apa jadinya jika seorang putri sengaja mendorong ibunya tertarik pada seorang pemuda seusia dirinya, merancang pertemuan, tetapi juga membocorkan rahasia tersebut pada sang ayah (dugaanku berdasarkan bacaan ini, ia sengaja hendak menyakiti sang ayah dengan membeberkan perilaku ibunya) ... nah, ini jelas-jelas anak yang ‘terganggu’ menurutku, apalagi membaca endingnya ... bagaimana ia merencanakan masa depan hidupnya dengan orang-orang yang saling berhubungan seksual (dugaanku, gadis ini memiliki sifat manipulatif sebagai kompensasi sosok yang tak pernah diperhatikan karena dianggap kurang menarik dalam keluarganya).

Lalu bagaimana kelanjutan dan akhir kisah ini ? Harus kuakui, ide yang ditanamkan oleh penulis sungguh sangat mengena. Terlepas dari berbagai kelainan seksual serta perilaku psikologis masing-masing karakter, maka tema kisah ini sudah tercantum pada judul diatas yaitu “The Key” ...bisa diasumsikan pada kunci buku harian masing-masing pasangan ini, yang ditulis dan disembunyikan, namun diriku lebih cenderung pada makna tersirat sang penulis. Bahwa pokok permasalahan terletak pada sebuah Kunci, yaitu tiada keterbukaan dan komunikasi dari hati ke hati dalam keluarga ini. Sehingga mereka berusaha mencapai keinginan masing-masing dengan cara-cara tersendiri, cara-cara aneh yang bisa dikatakan mendekati penyakit kejiwaan. Dan memang masing-masing individu dalam keluarga tersebut, ayah / suami, ibu / istri dan putri / gadis remaja, berusaha mencapai apa yang selama bertahun-tahun bercokol dalam benak dan jiwa mereka, memanfaatkan pihak ketiga, pemuda bernama Kimura.

“Ikuko, Istriku tercinta! Aku tidak tahu apakah kau akan membaca ini atau tidak. Tidak ada gunanya juga menanyakannya, karena kau tentu tidak akan melakukan hal itu. Tetapi jika kau membaca ini, percayalah cerita ini bukan karangan, setiap kata dalam buku ini adalah kejujuran.” ( ~buku harian sang suami – from ‘The Key’ by Jun’ichiro Tanizaki | p. 6 )

“...apapun yang dia pikirkan, aku tidak akan membacanya. Aku tidak punya keinginan untuk menembus jiwanya lebih daripada batas yang aku tetapkan kepada diriku. Aku tidak suka membiarkan orang lain mengetahui apa yang ada di pikiranku dan aku juga tidak ingin mengintip urusan mereka. Kurasa membaca buku hariannya tidak akan membuatku bahagia.”  ( ~buku harian  sang istri – from ‘The Key’ by Jun’ichiro Tanizaki | p. 12 )

Sebelum kututup kisah ini, harus kuakui, ini bukanlah kisah favoritku, namun diriku tak mampu mengenyahkan perasaan janggal sekaligus bersalah, karena pada kenyataannya, penulis telah berhasil ‘menelanjangi’ kebobrokan jiwa manusia melalui karakter-karakter dalam kisah ini. Dan jika Anda berani menghakimi tokoh-tokoh ini sebagai manusia sesat, hendaklah bercermin terlebih dahulu, bukankah ini hanya sebagian kecil  contoh ‘kejahatan’ yang terkadang mampir di benak serta hati kita ?? Bahkan kisah ini bisa dikatakan tidak terlalu dahsyat dengan berbagai adegan film yang mengumbar seks berganti-ganti pasangan, atau jika Anda termasuk penggemar setia setiap berita infotainment tentang perselingkuhan, perceraian, skandal, pemerkosaan, dll ... maka tiada bedanya diri kita dengan tokoh-tokoh dalam kisah ini. 

Sang penulis patut diacungi jempol karena berani ‘mengecek’ tampilan luar diri manusia yang tampak sempurna, bersih tanpa cacat, namun bobrok di dalam jiwanya, dan perlu Anda ingat, kisah ini ditulis dan diterbitkan pada tahun 1956, dimana topik ini termasuk ‘tabu’ untuk dibicarakan apalagi di kalangan masyarakat Asia, yang memegang kuat adat dan budaya tradisional, termasuk hubungan antar suami-istri tidak pernah menjadi bahan perbincangan.  Sungguh sayang justru perilaku seksual yang menyimpang ini yang menjadi sorotan utama media, bahkan saat berusaha mencari referensi melalui google, hanya mendapati berbagai versi kisah ‘porno’ yang dibuat berdasarkan sekelumit kisah ini, bukannya inti-permasalahan yang telah kuungkapkan diatas. Nah, jika demikian, pada posisi mana Anda meletakkan persepsi pemikiran Anda ? 

Tentang Penulis :
Jun’ichiro Tanizaki lahir pada tanggal 24 Juni 1886 di Tokyo, Jepang – kota tempat keluarganya memiliki usaha percetakan. Beliau mempelajari Sastra Jepang di Tokyo Imperial University. Karya pertamanya diterbitkan berupa drama satu babak  yang muncul pada tahun 1909 di sebuah majalah sastra Jepang. Kemudian menyusul berbagai novel-novel pada awal karirnya sebagai seorang penulis, yang menggambarkan tentang kehidupannya sebagai seorang mahasiswa bohemian. Pada masa itu beliau banyak  dipengaruhi oleh gaya penulisan para penulis terkemuka dari Barat, seperti Edgar Allan Poe, Baudelaire, dan Oscar Wilde. 

Beliau tinggal dan menetap di kota metropolitan Tokyo hingga terjadi gempa besar pada tahun 1923, dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke ke daerah yang lebih berbudaya : Kyoto, Osaka – yang menjadi latar belakang novelnya yang terkenal ‘ Sasameyuki ‘ ( The Makioka Sisters, 1943-1948 ). Di tempat ini pula beliau mulai terserap dalam gaya kehidupan kuno Jepang, dan mulai meninggalkan pandangan kebarat-baratannya yang dangkal. Para kritikus Jepang setuju bahwa krisis emosioanal serta kecerdasannya, mengubah Tanizaki dari seorang penulis biasa-biasa menjadi penulis yang sangat bagus serta tajam dalam menyajikan tema-tema sekitarnya.   

Novel-novel beliau yang dihasilkan setelah tahun 1923 semakin banyak dibicarakan dan dicari oleh para penggemar sastra, salah satunya adalah The Key ( Kagi ) yang terbit pada tahun 1956. Dan semenjak tahun 1930, nama beliau kian terkenal ketika keseluruhan karya-karya diterbitkan secara lengkap. Pada tahun 1949, beliau memperoleh Anugerah Kaisar Jepang dalam bidang sastra pada 1949 dan beberapa kali dicalonkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Sastra. 

Beliau wafat akibat serangan jantung pada tanggal 30 Juli 1965 di Yugawara – wilayah sebelah barat daya kota Tokyo. Namun beliau meninggalkan berbagai karya abadi yang tidak saja berharga bagi masyarakat sastra Jepang, tapi juga bagi dunia sastra Internasional.
Ada pun karya lain beliau yang juga telah diterjemahkan dalam versi bahasa Indonesia berjudul ‘The Secret History of Lord Musashi and Arrowroot’ yang merupakan tiga bagian kisah terpisah tentang fiksi berdasarkan sejarah Jepang Kuno, cukup menarik untuk diulas dalam reviewku yang lain. 

Best Regards,


1 comment:

  1. Termasuk buku wajib bagi penggemar sastra klasik ya. Dengan kecanggihan (kerumitan) paparan konflik psikologis [terhadap hasrat biologis yang notabene searah] yang jauh mendahului zamannya yang disajikan dengan cara sederhana.

    Saya baca yang edisi Inggris. Satu bagian yang masih teringat karena momentumnya sangat menggelitik (dalam buku diulang beberapa kali) adalah "..I heard footsteps in the garden." Eantah dalam edisi Indonesia ini dituliskan bagaimana. Pendeknya, fenomenal. :)

    ReplyDelete

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)