Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Wednesday, March 27, 2013

Books "THE GOOD EARTH"



Books “BUMI YANG SUBUR” 
Judul Asli : THE GOOD EARTH
( book 1 of The House of Earth Trilogy ) 
Copyright © 1931 / renewed 1958 by Pearl S. Buck
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama 
Alih Bahasa : Gyani Buditjahja
Cover by Pang Warman 
Cetakan ke-04 : Agustus 2003 , 536 hlm
 
"Novel ini telah terjual habis dalam waktu singkat, menuai banyak pujian & penghargaan dari banyak kalangan. Puncaknya saat memenangkan hadiah Putlizer 1932 dan diterjemahkan kedalam lebih dari tigapuluh bahasa serta menduduki tempat terhormat di gedung sandiwara & gedung bioskop. Novel ini mengisahkan tentang Cina pada kehidupan abad kedua puluh, dimasa pemerintahan kekaisaran terakhir sehingga terjadi pergolakkan politik & sosial secara besar-besaran yang menyengsarakan rakyat jelata. Penulis mampu menggambarkan pergeseran antara ajaran dan norma-norma tradisional dengan masuknya pengaruh bangsa asing yang menjerat kehidupan banyak orang, seperti senjata, candu, budaya dan seni, pola pikir serta pendidikan menuntut kesetaraan derajat antara pria-wanita, kalangan atas-kalangan bawah. Suatu kisah yang pantas dinikmati tanpa melihat zaman ataupun waktu, karena hal ini masih banyak terjadi sampai saat ini dimana pun kita berada. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dapat dijadikan refleksi akan apa yang kita pandang sebagai prinsip-prinsip kehidupan."

Sinopsis :

Ini adalah awal kisah tentang dinasti keluarga Wang – dimulai dari kehidupan Wang Lung, seorang petani muda dengan kehidupan sederhana sehari-hari menggarap tanahnya yang tidak seberapa untuk menghidupi dirinya beserta ayahnya yang telah beranjak tua. Menjelang usia yang cukup, sebagaimana didikan pemuda yang harus melanjutkan keturunan, maka ia mencari calon istri untuk melahirkan putra-putra penerus nama keluarga. Karena dirinya hanya seorang petani miskin, maka ia hanya mampu membayar mas kawin untuk menebus seorang budak wanita biasa dari Rumah Keluarga Hwang yang terpandang di desanya. 


Wang Lung walaupun hanya petani miskin, namun ia memiliki Impian dan cita-cita tinggi untuk meningkatkan kehidupannya. Wang Lung senantiasa rajin dan tekun dan senantiasa hemat - tidak pernah menghambur-hamburkan uang untuk mabuk & berjudi seperti kebanyakkan petani miskin lainnya. Ini didukung oleh istrinya, O-lan yang bukanlah wanita cantik rupawan, lembut ataupun terpelajar, namun ia terbukti sebagaimana istri petani yang berbakti dan pekerja keras dalam membantu pekerjaan Wang Lung sebagai seorang petani. Bahkan O-lan termasuk wanita kuat dan mandiri dengan hamil, melahirkan putra-putri tanpa bantuan siapapun & langsung bekerja di sawah selepas melahirkan.

Berkat kerjasama dan saling pengertian diantara keduanya, maka mulai terkumpul kekayaan kecil sebagai petani berupa uang-uang perak. Wang Lung orang yang cerdik, ia sadar bahwa kekayaan berupa uang, perhiasan tidak berguna, malah bisa mengundang perampok. Maka demi memenuhi Impian-nya, ia mulai membeli tanah keluarga Hwang yang terkenal subur namun tak terurus karena kemalasan keturunan Hwang yang hanya bisa menghamburkan warisan kekayaan keluarganya. Sedikit demi sedikit, maka tanah Wang Lung mulai meluas, namun hal tersebut tidak merubah pola dan cara hidup Wang Lung sekeluarga yang tetap sederhana.

Prinsip Wang Lung yang tetap memperluas kekayaan lewat pengembangan tanah miliknya, terbukti membuat dirinya beserta keluarga mampu mengatasi segala kesulitan yang terjadi dalam kehidupan mereka. Bahkan disaat musibah melanda desanya hingga kelaparan merajalela dan menghancurkan kehidupan banyak orang dan membuat keluarga Wang Lung harus mengungsi sementara dikota lain demi sesuap nasi – mereka tetap mampu kembali ke tanah pertanian dan membangun kehidupan yang jauh lebih sukses dengan perjuangan, kerja keras, ketekunan serta tidak pasrah hanya menerima nasib semata. Maka keluarga Wang Lung bukan lagi petani miskin yang banyak dilecehkan & dihina orang, namun menjadi keluarga kaya dan terpandang di wilayah tersebut.

Kehidupan Wang Lung akan lebih bahagia, seandainya tidak ada gangguan dari keluarga pamannya-kakak ayahnya, yang hidup menghambur-hamburkan uang dan mulai menggerogoti kemenakannya yang telah berhasil menjadi orang kaya. Disisi lain, Wang Lung yang memiliki banyak pegawai, mulai jarang turun langsung kelapangan. Karena terbiasa sibuk, maka timbul kegelisahan demi menghabiskan waktu. Maka dimulailah kegiatan yang menjadi awal racun dalam keluarga, saat ia terlibat dengan seorang gadis dari rumah hiburan bernama Lotus. Bahkan Wang Lung berbuat lebih jauh dengan membawa Lotus beserta pelayannya Cuckoo ke dalam rumahnya sebagai selir. Maka Wang Lung tidak pernah lagi merasakan ketenangan di kediamannya dengan adanya perseteruan antara anggota keluarga. Selirnya yang masih cantik & muda membuat pengeluaran yang sangat boros, apalagi paman, bibi dan putra mereka yang senantiasa meminta uang untuk foya-foya, kemarahan ayahnya karena membawa wanita yang tidak direstui ke dalam rumah serta kesulitan dalam mengelola lahannya yang sangat luas – membuat Wang Lung semakin lama semakin tidak bahagia dengan keberadaannya sekarang. Hanya satu hal yang dapat membuatnya merasa damai, bekerja kembali dan merasakan tanah nan subur di tangannya, bagaimana pun ia adalah seorang petani sejati.

Semakin lanjut usia, Wang Lung hanya berusaha menjaga dan terus mengembangkan tanah yang dicintainya demi keturunannya, putra-putranya yang telah beranjak dewasa. Namun tak seorang pun yang tertarik meneruskan usaha ayahnya. Putra sulungnya hanya senang menduduki posis sebagai Tuan Tanah namun membenci pekerjaan yang berhubungan dengan orang-orang rendahan. Putra kedua lebih senang berdagang, sedangkan putranya ketiga melarikan diri karena membenci tanggung jawab tanah pertanian yang diserahkan pada dirinya dan setelah mengetahui gadis budak bernama Pear Blossom, yang diam-diam dicintainya, ternyata diambil sebagi selir oleh ayahnya sendiri. Maka diakhir ajalnya, Wang Lung hanya Pear Blossom yang sangat mengasihinya yang benar-benar merasa kehilangan. Sedangkan keturunan Wang Lung mulai membagi dan menjual tanah luas hasil perjuangan dan  kerja keras Wang Lung seumur hidupnya.

Best Regards,


No comments:

Post a Comment

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)