Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Wednesday, March 27, 2013

Books "SONS"



Books “WANG SI MACAN”
Judul Asli : SONS
( book 2 of The House of Earth Trilogy )
Copyright © 1932, renewed 1959 by Pearl S. Buck
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Irina M. Susetyo
Cover by Satya Utama Jadi
Cetakan ke-01 : Maret 2008 , 608 hlm

Sinopsis :
Kelanjutan dari kisah keluarga Wang dimulai dengan sang Kepala Keluarga Wang Lung menjelang ajalnya hanya ditemani selir setia Pear Blossom. Walaupun telah memiliki kekayaan & mendiami istana yang megah, namun diakhir hayatnya, Wang Lung memilih menghabiskan waktunya di kediaman lama di tanah pertanian, tempat dimana ia dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Kedua putranya sibuk mempersiapkan pemakaman dan merencanakan pembagian tanah warisan milik mereka setelah Wang Lung meninggal. Sedangkan putra ketiga yang melarikan diri, tidak dapat ditemukan sampai Wang Lung menghembuskan nafas terakhir, menyusul ayahnya dan istri pertama yang setia O-lan, ibu seluruh putra-putrinya yang telah lama meninggalkan dunia terlebih dahulu.


Maka kehidupan baru dimulai, setelah perseteruan kecil tentang pembagian warisan diantara keluarga Wang yang ada, masing-masing pihak meneruskan Impian masing-masing atas harta yang diperoleh. Wang si Sulung sebagai penerus keluarga menjabat sebagai Tuan Tanah yang sibuk menarik pajak sewa dari para petani penggarap serta menjual sedikit demi sedikit tanah warisannya demi memuaskan diri dengan foya-foya. Istrinya yang berasal dari keluarga terpandang serta terpelajar ternyata menyimpan ketidak puasan dan senantiasa membanding-bandingkan keadaannya sekarang dengan keadaan keluarganya. Maka tidak lama kemudian kebiasaan Wang Tuan Tanah semasa muda untuk bermain di rumah hiburan dimulai kembali. Warisan yang diterima dalam sekejap mulai berkurang karena dihabiskan untuk wanita simpanan, bahkan putra-putrinya senantiasa menuntut barang-barang mahal demi mengikuti meningkatkan status sosial dan mode terbaru. Pengeluaran terus mengalir tanpa disertai pemasukkan yang berarti karena dalam keluarga tak ada satu pun yang tertarik untuk bekerja. Dari penampilan luar tampak bahwa keluarga Wang Tuan Tanah merupakan keluarga kaya dan terpandang, tanpa diketahui banyak orang bahwa sebenarnya kondisi keuangan mulai menipis.

Sedangkan  Wang putra kedua yang lebih pandai, mampu berhemat bahkan senantiasa mencari jalan guna melipatgandakan warisan kekayaan miliknya dengan segala cara, apalagi semenjak muda ia telah dibekali ilmu berdagang. Ia memilih istri bukan dari kalangan kaya dan terpelajar, namun menikahi wanita desa sederhana yang kuat dan sigap dalam bekerja serta pandai mengatur pembelanjaan dalam keluarga. Berkat kecerdikkan yang dimiliki, tak lama kekayaan yang ada telah jauh melampaui warisan diantara saudara-saudaranya, namun sifat hemat dan hidup sederhana tetap dilakukan dalam keluarganya sehingga tak ada yang mengetahui keadaan yang sebenarnya. Wang Sang Saudagar bahkan secara diam-diam mengambil keuntungan dari transaksi-transaksi warisan kedua saudaranya, yang tidak terlalu peduli dengan urusan tanah pertanian keluarga. 

Wang putra ketiga, yang datang terlambat menjelang pemakaman ayahnya, tidak tertarik untuk tinggal lebih lama di tanah keluarga yang dibencinya. Setelah menerima warisan, ia meminta pertolongan kakak-kakaknya untuk mengelola atau menjual tanah warisan miliknya, karena yang sangat dibutuhkan adalah uang perak yang banyak. Putra ketiga yang dijuluki Wang Si Macan memiliki cita-cita tinggi untuk membentuk dan memiliki pasukan serdadu sendiri serta menguasai daerah-daerah jajahan yang sangat luas. Siapa tahu ia bisa menjadi panglima, jenderal bahkan Kaisar penguasa, apalagi mengingat pergolakkan peperangan yang terjadi dimana-mana akibat mangkatnya kaisar terdahulu tanpa pewaris.

Maka selepas upacara pemakaman, ia segera meninggalkan daerah kelahiran dan mulai membentuk pasukan serdadu, membeli persenjataan, memperluas wilayah kekuasaan dengan menumpas penguasa sebelumnya dan mendirikan wilayah kerajaan kecil miliknya. Dengan keuletan, kecerdikan dan tekad yang kuat, akhirnya Wang si Macan mampu membuktikan dirinya menjadi penguasa wilayah yang luas dengan serdadu ribuan jumlahnya serta rakyat yang hidup di lahan yang subur dan kaya sehingga memberikan pemasukkan pajak yang tinggi bagi kehidupannya.

Akan tetapi walau semua tampak telah berhasil dimilikinya, Wang si Macan merasa senantiasa resah dan gelisah, ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Saat melihat keadaan kakak-kakaknya beserta keluarga masing-masing, ia mulai berpikir tentang kehidupan pribadinya. Sejak kehilangan Pear Blossom – satu-satunya gadis yang pernah dicintainya, Wang si Macan tidak pernah memikirkan masalah wanita. Tapi sejak berjumpa dengan bekas gundik Leopard-kepala perompak yang ditumpasnya, ia tak mampu menghilangkan pikiran tentang wanita tersebut dari benaknya. Maka tanpa mengindahkan peringatan dari pendamping setianya, ia menikahi wanita cantik mempesonakan yang tak jelas asal-usulnya. Sejak saat itu dimulai bibit bencana yang akan merubah kehidupan Wang si Macan di masa depan.

Kisah tentang dinasti keluarga Wang berlanjut dengan perkembangan pola kehidupan yang berbeda antara ketiga putra Wang Lung. Akibat adanya perubahan politik dan sosial budaya yang terjadi di Cina saat itu, membuat generasi putra-putra Wang Lung tidak menjalani kehidupan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Wang Lung – terutama bagaimana memperlakukan dan menghargai nilai daripada tanah-tanah warisan hasil jerih payah Wang Lung seumur hidupnya.

Maka dalam sekejap, wilayah dan tanah yang subur milik Wang Lung untuk keluarganya mulai lenyap sebagaimana dulu Wang Lung mulai membeli sedikit demi sedikit tanah milik penguasa keluarga Hwang yang dijual oleh putra-putra mereka. Bahkan penggambaran masa depan keturunan cucu maupun cicit Wang Lung mulai tampak akan mengulang sejarah yang sama.

Kesan :
"Meski zaman & peradaban boleh berbeda & berubah sewaktu-waktu, namun sifat dasar manusia tetaplah mengikuti pola yang sama. Meski sang anak bersumpah untuk tidak mengikuti jejak orang tua – ataupun  mereka ingin memperoleh hidup yang lebih baik, bagaimana pun karma akan hukum kebajikan melawan kejahatan akan keserakahan – tamak – iri hati tetap berjalan sebagaimana adanya.

Ibarat semua manusia adalah petani penggarap sebagaimana kehidupan Wang Lung, maka apa yang ditanam serta bagaimana merawat serta memupuknya, seberapa banyak perhatian & dedikasi dalam proses – itu semua  yang akan menentukan hasil yang akan kita peroleh."

Best Regards,


No comments:

Post a Comment

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)