Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Wednesday, March 27, 2013

Books "THE PALACE OF ILLUSIONS"


Books “ISTANA KHAYALAN”
Judul Asli : THE PALACE OF ILLUSIONS
Copyright © 2008 by Chitra Banerjee Divakaruni
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Gita Yuliani K.
Cover by Satya Utama Jadi
Cetakan ke-01 : Juli 2009 ; 496 hlm

Pembuka :
Saat membaca sinopsis buku ini, teringat kembali akan kisah-kisah tentang tokoh-tokoh ‘pewayangan’ yang dulu sangat akrab sebagai bacaan semasa kecil lewat komik-komik maupun cergam karangan R.A. Kosasih. Rasa penasaran serta keinginan untuk mengulang kembali kisah-kisah tersebut, menggerakkan hati-ku untuk memilih buku ini sebagai salah ‘teman’ dalam perjalanan keluar kota.

Saat membuka halaman pembuka, masuk kata pengantar (yang sangat menarik karena bukan sekedar ucapan terima kasih belaka, namun disertai pula catatan dari penulis yang mengungkapkan sedikit ‘buah-pikiran’ mengapa beliau menulis kisah ini dari sudut pandang yang berbeda), kemudian mulai memasuki lembar-lembar kisah yang menjadi awal dari sosok utama tokoh wanita yang dikenal dengan nama Drupadi – wanita yang menjadi pasangan serta pendamping Pandawa Lima, wanita yang lewat kisah ini dituturkan memegang peranan besar dalam kancah Bharatayuda.

Sebagai salah satu karya sastra yang tak lekang oleh waktu, kisah Mahabharata merupakan bagian dari penulisan buku ini, namun jangan berharap membaca kisah yang sama – karena penulis memilih memberikan ‘kursi-utama’ pada Drupadi yang kemudian dikenal sebagai Panchali (sebutan terhormat yang lebih umum bagi masyarakat India) untuk mengisahkan jalannya sejarah keturunan dinasti Kuru dari sudut pandang-nya ; dari sudut pandang seorang wanita yang memiliki emosi, hasrat serta ambisi tinggi, sesuatu yang jarang dan tidak dapat diterima dengan baik oleh masyarakat pada waktu itu. 


Membaca buku ini sangatlah menarik bahkan membuat diri-ku harus menarik kembali persepsi awal yang selama ini telah terbentuk akan kisah-kisah Mahabharata yang ku-baca sebelumnya, kemungkinan karena perbedaan paham dan cara penyajian yang dibuat agar dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat umum – maka versi ‘kejawen’ yang lebih halus justru menghilangkan konflik-konflik akan norma kesusilaan serta etika yang justru banyak disoroti dalam versi aslinya.

[ source ]
Maka karya penulis yang terkenal banyak menyajikan tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang secara lebih pribadi dan intim, konflik antara keinginan untuk dihargai & dianggap setara dalam situasi & budaya yang masih penuh dengan aturan serta kekangan bagi wanita … membuat bacaan yang menambah nuansa indah sekaligus mengharukan. Bahkan dengan sedikit unsur kontroversial yang menyoroti hubungan batin secara pribadi antara Panchali dengan Karna maupun dengan Khrisna, dapat disajikan dalam tulisan yang gamblang, tak bertele-tele namun sarat dengan makna dan pengertian dalam. Jika ada penulis yang penuh penjiwaan sekaliber Paulo Coelho, maka Chitra Banerjee Divarkaruni dapat dikatakan versi ‘female-nya’ – sebanding dengan Pearl S. Buck yang juga banyak menyajikan kisah dengan latar belakang pertentangan kultur budaya dalam sudut pandang wanita.

Tanpa berusaha mengungkapkan lebih banyak tentang kisah ini dan tidak merusak ‘keindahan’ akan pemahaman kisah sosok Panchali, maka ini sekelumit kisah yang dapat ku-bagikan bagi anda sekalian, sebagai pembuka untuk memasuki ‘menu utama’ yang telah disajikan secara artistik serta penuh perasaan oleh penulis …

Sinopsis :
Drupadi lahir bersama saudara kembarnya Drestadyumna melalui ‘api’ dan dianggap sebagai berkat bagi Kerajaan Panchala karena telah sekian lama Prabu Drupada menantikan keturunan guna mewarisi keinginan membalas-dendam pribadi terhadap sosok Dorna yang menjadi guru besar Kerajaan Hastinapura. Akan tetapi sebagaimana pengharapan orang tua terhadap keturunannya, ternyata tidak berjalan seperti yang diinginkan. Drestadyumna atau Dre, yang diharapkan sebagai pewaris tunggal berusaha menjadi anak berbakti dengan menuruti keinginan ayahnya, namun ia tidak memiliki kehausan dan keingin-tahuan sebesar Panchali – yang justru merasa diabaikan dan ‘ditolak’ oleh ayahnya hanya karena ia seorang wanita. Panchali ingin dirinya berperan dalam perubahan sejarah, tanpa menyadari bahwa kelahirannya memang sebagai suatu alat bagi rencana yang jauh lebih besar.

[ source ]
Akhirnya takdir membawa nasib Panchali pada awal kisah besar di kemudian hari, saat dirinya disayembarakan guna memiliih calon suami, dimana acara tersebut sebenarnya taktik yang dirancang oleh ayahnya guna menarik pahlawan Hastinapura sebagai menantu & membalas dendam bagi Dorna. Dan Panchali yang telah diramalkan akan memiliki 5 suami justru tanpa sadar telah memberikan hatinya pada Karna – yang masa lalunya dijadikan ‘alasan’ sebagai penghalang bagi kebahagiaan dan kedamaian kehidupannya hingga menjelang ajal di padang Kurusetra di kemudian hari. Berkat campur tangan Khrisna sebagai titisan Dewa Wishnu ( meski tidak disebutkan secara gamblang oleh penulis ) maka jalur kehidupan Panchali berhasil ‘dipaksakan’ menuju arah yang tepat – ia menjadi istri dari Pandawa Lima yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, si kembar Nakula dan Sadewa.

Pandawa Lima adalah keturunan dari Pandudewanata, raja Hastinapura yang mangkat dalam usia muda akibat ‘kutukan’ seorang brahmana – sehingga untuk sementara tampuk pemerintahan diambil alih oleh kakaknya Prabu Destarata sambil menunggu putra-putra Pandu dewasa. Yang menjadi penyebab konflik dipicu dari ketidak-puasan Prabu Destarata sebagai kakak tertua dari Pandu & Widura ( =dalam buku ini tidak banyak dikisahkan ) namun ‘dilangkahi’ adiknya gara-gara ia buta sejak lahir, ditambah dengan ‘gosokan’ istrinya Permaisuri Gandari yang juga tidak puas karena ‘dialihkan’ oleh Pandu menjadi istri kakaknya yang buta. Maka setiap kesempatan digunakan untuk mengambil alih dan menghilangkan keturunan Pandu yang dianggap telah merebut hak asli dari tangan keturunan Destarata yaitu para Kurawa yang berjumlah seratus ( =kelahiran mereka sangat mengerikan karena permaisuri Gandari melahirkan sebongkah daging besar yang kemudian pecah menjadi seratus keping dimana bongkahan tersebut kemudian berubah menjadi 99 bayi laki-laki dan seorang putri ).

[ source ]
Perselisihan antara Pandawa dan Kurawa menyeret Panchali dalam kehidupan baru yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Dari kehidupan nyaman hingga menggelandang bak pengemis, dari kebiasaannya senantiasa berkuasa hingga harus berhadapan dengan Ibunda Kunti – mertua yang senantiasa kritis dan siap menyoroti semua tindak-tanduknya, kemarahan Arjuna yang memenangkan dirinya namun harus berbagi dengan keempat saudaranya ( ego Arjuna yang mendasari hal tersebut, bukan rasa cinta yang didambakan oleh Panchali ), ingatan serta kenangan akan Karna yang tak dapat dilupakan dalam benak Panchali … sehingga mulai membentuk dirinya  sebagai wanita yang berusaha memperoleh kebahagiaan dirinya dengan berbagai cara yang cukup licin. Karena Panchali wanita yang cerdik dan memiliki ambisi akan pencarian ‘kepuasan-diri’ maka ia berusaha mengendalikan Pandawa Lima dalam memenuhi impiannya … atau lebih tepatnya sebagaimana Khrisna yang dekat dan sangat memahami dirinya, ia mengatakan bahwa Panchali penuh dengan ‘amarah’ akan ketidak-puasan dan tak pernah sabar dalam menanti sesuatu untuk berjalan sesuai dengan kehendaknya. 

Bahkan akibat wataknya yang pemarah dan tak sabaran itulah Begawan Abiyasa ( =Byasa ) telah meramalkan bahwa kejatuhan dalam kehidupan Panchali dimulai dari tiga hal yang seharuslah dihindari : pertama “tepat sebelum pernikahan – tahanlah pertanyaanmu” ( =saat dimana Panchali mengubah rasa cinta Karna menjadi dendam dengan dalih menyelamatkan nyawa Dre ) ; kedua “saat suami-suaminya pada puncak kekuasaan – tahanlah tawamu” ( =saat dimana Panchali menertawakan Duryudana dan Karna hingga mereka merasa dipermalukan ) ; ketiga “saat ia dipermalukan dengan sangat hebat seperti yang tak pernah terbayangkan – tahanlah kutukanmu” ( = saat dimana Panchali ‘dipermalukan’ dihadapan para Kurawa dan Pandawa, hingga ia mengeluarkan kutukan akan musnahnya seluruh keturunan dan keluarga Kurawa tanpa tersisa demi terselesaikannya dendam Panchali ).

[ source ]
Kehidupan Panchali mengalami titik balik setelah peristiwa tersebut, bukan hanya dipermalukan – kehilangan harta, kedudukan, status – bahkan rasa cinta dan dambaan yang pernah ada seakan lenyap tersapu oleh kepahitan serta dendam kesumat. Panchali sengaja membiarkan rambutnya terurai hingga tiba saatnya untuk dicuci dengan darah orang-orang yang telah menghinanya. Kepahitan dan kesombongan dirinya membuat Panchali tak mudah melepaskan Pandawa Lima terutama Yudistira, yang dianggap telah turut menyeret dirinya dalam kesengsaraan. Dalam pengasingan yang harus mereka jalani selama dua belas tahun, tak sekalipun ia mau mengikuti ajakan keluarganya termasuk Dre yang mengajak dirinya kembali ke istana guna merawat anak-anaknya. Dalam hati kecilnya Panchali menyadari bahwa niat sebenarnya bukan didorong atas kemuliaan hati namun lebih pada keangkuhan ingin menunjukkan bahwa dirinya masih mempunyai pengaruh atas para Pandawa Lima, serta senantiasa mengingatkan mereka akan tekad untuk membalas dendam, meskipun ia harus berkorban hidup menderita dan meninggalkan anak-anaknya … hanya seorang yang mengetahui persis isi hatinya, Khrisna yang dengan sabar dan tak pernah bosan mengingatkan dirinya agar tidak menuruti ‘api dendam-kesumat’ yang akan berbalik membakar dirinya.

Penutup :
Lewat kata-kata yang gamblang namun sarat dengan makna dalam, penulis mampu merangkai kisah panjang mulai awal kehidupan cikal bakal dinasti Kuru, masuk pada kehidupan kisah yang dikenal sebagai Mahabharata hingga perang dahsyat Bharatayuda dan diakhiri saat Pandawa Seda lewat gambaran pendakian gunung Himalaya. Bukan suatu hal yang mudah merangkum semuanya dan masih dapat memberikan kesegaran baru lewat sosok Drupadi yang dikenal secara umum sebagai wanita lembut, pasrah dan setia – justru pembaca akan dipermainkan perasaannya dengan sosok Panchali yang keras kepala, angkuh, pandai dan ambisius serta manipulatif, membuat kita akan menyukai – membenci – sekaligus mengasih sosok yang sangat manusiawi.

~ Mahabharata - Bharatayudha ~ [ source ]
Sejarah-sejarah nyata banyak pula mencatat bahwa peran serta sosok wanita sering kali menentukan suatu perubahan drastis pada sejarah kekuasaan. Jika seorang Cleopatra mampu membuat pria-pria yang berkerabat saling bunuh dan kudeta pemerintahan terjadi, jika seorang Helen of Troy mampu menggerakkan hati laki-laki hingga terjadi perang besar yang memusnahkan suatu bangsa, jika penguasa bengis dan ditakuti musuh-musuhnya Attila The Hun akhirnya meninggal karena pengkhianatan wanita yang dicintainya, maka sosok Panchali merupakan contoh perwujudan kelemahan serta kekuatan seorang wanita – sesuatu yang seringkali diremehkan namun ibarat gunung berapi yang sedang tidur, sewaktu-waktu akan meletus & memakan banyak korban.

Tentang Penulis :
Chitra Banerjee Divakaruni lahir di Calcutta, India, dan pindah ke Amerika Serikat pada usia sembilan belas tahun. Berdasarkan kehidupannya di Amerika, konflik antara tradisi serta budaya yang berbeda menjadi bahan penulisan sebagian besar karyanya seperti  “Penguasa Rempah-Rempah” ( The Mistress of Spices ) bahkan telah diangkat ke layar lebar dengan tokoh utama Aishawarya Rai dan Dylan McDermott ; buku keduanya “Saudara Sehati” ( Sister of My Heart ) tentang dua wanita yang bersahabat erat namun harus mengalami perubahan akibat salah satu dari mereka pindah ke Amerika mengikuti suaminya ; dan kelanjutannya “Jalinan Jiwa” ( The Vine of Desire ) ; Keong Ajaib ( The Conch Bearer ) yang agak berbeda karena ia menggunakan tokoh bocah laki-laki dan perempuan berusia belasan tahun. 

Minatnya terhadap kehidupan kaum wanita semakin dalam saat ia aktif dalam lembaga-lembaga yang membantu wanita-wanita yang mengalami penyiksaan dan membantu mereka agar dapat mandiri dalam kehidupan masing-masing. 

Karya-karyanya dikenal luas selain novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, telah diterjemahkan dalam sebelas bahasa, termasuk bahasa Belanda, Yahudi, dan Jepang. Lulusan dari Wright State University di Dayton, Ohio memberinya gelar Master & gelar Ph.D diperoleh lewat University of California, Berkeley. Saat ini bersama suaminya Murthi Divakaruni, ia tetap aktif menulis tentang kisah-kisah para wanita ekspatriat dari pengalaman pribadi maupun kehidupan di sekelilingnya.  

Lahir di Calcutta, India. Pada usia sembilan belas tahun ia pindah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan sekolah. Tahun 1976 ia kuliah S2 Bahasa Inggris di Wright State University, Ohio, dan setelah itu melanjutkannya dengan kuliah S3 di University of California di Berkeley. Chitra Divakaruni saat ini bekerja sebagai dosen penulisan kreatif dan bahasa Inggris di University of Houston.

Ia juga menjadi ketua MAITRI, lembaga bantuan untuk wanita-wanita Asia Selatan. Tahun 1995, kumpulan cerita pendeknya, Arranged Marriage, memperoleh penghargaan PEN Oakland Josephine Miles Prize for Fiction, Bay Area Book Reviewers Award for Fiction, dan American Book Award dari Before Columbus Foundation. Ia juga menerima 1994 Santa Clara Arts Council Award for Fiction dan 1994 Wallace Alexander Gerhode Foundation Poetry Award.

Best Regards,


No comments:

Post a Comment

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)