Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Wednesday, March 27, 2013

Books "IMPERIAL WOMAN"



Books “MAHARANI”
Judul Asli : IMPERIAL WOMAN
Copyright © 1956 by Pearl S. Buck
Copyright © renewed 1984 by Janice C. Walsh, Richard S. Walsh, John S. Walsh, Henriette C. Walsh, Mrs. Chieko Singer, Edgar S. Walsh, Mrs. Jean C. Lippincott and Carol Buck.
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Lily Wibisono
Cetakan II : Agustus 1993 ; 360 hlm [ part 1 ] + 440 hlm [ part 2 ]

[ Period : Month of April 1852 M ; Month of 3 on Cina Year 208 on Manchu | Ch’ing Dynasty | Peking, Cina ]

Pada bulan keenam, hari kedua puluh, para perawan Manchu harus tampil di hadapan Ibu Suri sang Putra Langit, untuk dipilih menjadi selir-selir sang Kaisar. Kisah ini dimulai dari sosok Orchid – gadis rupawan berusia 17 tahun, salah satu dari 60 orang gadis yang terpanggil menghadap Ibu Suri. Orchid yang kemudian dipanggil sebagai Yehonala – belajar menarik perhatian pihak-pihak yang terkait, karena ia mendambakan perubahan besar dalam hidupnya, ia menginginkan dirinya sebagai Selir Terpilih Putra Langit. Meski hatinya tertuju pada saudara sepupunya, Jung Lu, bahkan dapat dikatakan mereka dijodohkan semenjak kecil, namun Yehonala tidak langsung menerima lamaran pujaan hatinya, justru menantikan kehidupan baru nan megah di dalam istana. Ia adalah gadis yang sangat cerdas dan memiliki kemauan keras, namun sebagaimana semua gadis belia, ia sangat polos akan kejamnya dunia di balik tembok raksasa Kerajaan. 


Dengan kecerdikan dan ketekunannya, Yehonala terpilih menjadi selir Pilihan, berusaha mengambil hati Ibu Suri, sembari menanti kesempatan untuk dipanggil oleh sang Putra Langit, terutama setelah ia menunaikan kewajiban pada Permaisuri baru, Sakota – adik kandung Permaisuri terdahulu yang telah tiada, sekaligus saudara sepupu Yehonala. Dibantu oleh salah satu kasim bernama Li Lien-ying, yang memiliki ambisi besar menaikkan statusnya, Yehonala mampu menembus persaingan ketat dan segala intrik dalam istana, memperoleh perhatian penuh dari Kaisar Hsien Feng, menjadi selir kesayangan no. 1, yang dipanggil sebagai Kesayangan Kaisar. Bintang keberuntungan menyertai dirinya, ketika ia hamil hampir setelah sang Permaisuri dinyatakan mengandung. Kehamilan dirinya dirahasiakan, hingga ia memperoleh kepastian, apakah sang Permaisuri Sakota akan melahirkan seorang putra – calon penerus Kerajaan, atau seorang putri.

Ketika saat yang dinantikan tiba, Permaisuri akhirnya melahirkan, seorang bayi putri yang sangat lemah dan tidak diharapkan oleh Kerajaan, maka Yehonala tampil sebagai penyelamat, pembawa harapan akan masa depan yang lebih baik. Namun timbul tragedi atas kejadian itu, Ibu Suri yang terlalu gembira, meninggal dunia, putus nafasnya di hadapan putranya saat membawa kabar gembira tersebut. Maka tiada pesta pora, alih-alih suasana bergabung selama beberapa bulan. Maka Yehonala menyibukkan diri dengan belajar berbagai ilmu, mulai kesenian, pengetahuan umum, sastra hingga dunia politik, karena ia menyadari bahwa calon bayinya akan menjadi pemimpin kerajaan. Di dorong oleh rasa haus akan pengetahuan, Yehonala tidak puas dengan guru pembimbingnya yang hanya mampu mengajarkan dunia sastra. Maka dipanggillah Pangeran Kung – putra keenam dari Kaisar sebelumnya, saudara seayah dengan Kaisar Hsien Feng, yang jauh lebih pandai, cerdas dan memiliki pembawaan tenang serta berwibawa dibandingkan sang Kaisar, dan ia menjadi mentor selir muda yang ambisius ini. 

Kelahiran bayi yang dikandung Yehonala, sesuai firasatnya, terlahir putra – calon pewaris Kerajaan. Namun perjuangan Yehonala baru mencapai permulaan. Karena sifat serta kemauannya yang keras, tak mau dipengaruhi oleh pihak-pihak lain, membuat dirinya memiliki musuh-musuh dalam kerajaan. Bersekutu dengan kasim pilihannya Li Lien-ying serta Kasim Kepala An Teh-hai, Yehonala mempelajari strategi siapa kawan atau sekutu, dan siapa lawannya. Hingga ia memperoleh berkat dari sang Kaisar, gelar serta status Tzu Hsi – Ratu Istana Barat, Ibu yang Beruntung dari Putra Mahkota, kekuasaannya lebih besar daripada sang Permaisuri Sakota atau Tzu An – Ratu Istana Timur. Ratu Tzu Hsi siap melakukan apa pun demi menjaga dan menyiapkan kerajaan bagi putranya. 

Kisah ini sudah pernah kubaca beberapa tahun yang lalu, namun saat membaca ulang utnuk menulis reviewnya, ternyata tidak mengurangi kenikmatan membaca kisah yang seru, menarik sekaligus menyentuh. Penulis yang sudah dikenal sangat mencintai kehidupan dan budaya masyarakat Cina, meski dirinya dapat dikatakan termasuk ‘bangsa-asing’ mampu menyajikan sebuah kisah tentang perjuangan seorang wanita yang dianggap tak memiliki suara dalam kehidupan masyarakt Cina, terutama pada periode jaman Kerajaan. Sosok Yehonala yang berubah wujud menjadi Tzu Hsi – kaisar wanita yang lebih tegar, cerdas, berani sekaligus ambisius dibanding Kaisar Terpilih, dikagumi karena kemampuan berpikir dan mengambil keputusan bak seorang pria, namun tetap terjebak dengan aturan serta tradisi yang tidak memperdulikan ‘suara seorang wanita’. 

Dengan jeli penulis menuturkan curahan hati serta pikiran Yehonala, mulai dari Impian akan masa depan gemilang, alih-alih mendapati sosok Putra Langit yang dipuja-puja, tak lebih dari seorang pria muda yang lemah secara fisik (sang Kaisar mengalami impotensi dan harus didorong oleh ramuan obat kuat) serta mental akibat penyalah-gunaan obat-obatan, candu serta permainan seks yang dimulai semenjak masih remaja. Kebobrokan kehidupan dalam istana, permainan tidak sehat antara para selir, kasim, hingga pejabat terkait, kehidupan glamour dengan pesta pora tiada henti, penghamburan harta kekayaan hasil pengumpulan pajak rakyat demi memperindah dan memperluas istana, satu demi satu dikeluarkan melalui penuturan perjalanan Yehonala. 

Tidak kalah menariknya, intrik serta konspirasi demi alasan masa depan bangsa, namun pada akhirnya kembali pada ambisi pribadi masing-masing, satu demi satu para tokoh dalam kisah ini, terjalin dalam jaring laba-laba yang semakin meluas dan membelit satu sama lain. Yehonala, gadis dengan Impian besar, kecewa dengan pria yang dijunjung tinggi, sakit hati karena ia telah ‘menolak’ lamaran pujaan hatinya, hubungan gelap yang terjadi sekali namun menghasilkan Putra Mahkota yang sangat kuat, cerdas dan membanggakan, semua yang megetahui rahasia ini menutup mata demi satu hal, mengeruk keuntungan pribadi masing-masing, menjamin masa depan yang mereka maui. 

Apa jadinya jika kepentingan pribadi saling berbenturan ? Antar saudara, antar keluarga, saling curiga, saling membenci dan berusaha mencari jalan menjatuhkan bahkan menyingkirkan satu sama lain. Kebahagiaan yang terjadi tampak semu, hanya tampilan di luar, karena di dalam hati masing-masing hanya ada keserakahan, kekhawatiran, ketakutan tiada henti dan kesepian.  Di sini terlihat watak asli manusia bila ia dipojokkan, yang terbaik akan muncul, namun yang terburuk dan paling kelam juga acapkali keluar tanpa bisa dicegah. Anak menyingkirkan orang tua, orang tua melawan dan kehilangan anaknya. Harga nyawa manusia dihargai sangat murah, semuanya dengan alasan demi kemuliaan dan kejayaan. 

Kisah ini semakin menarik karena penulis memasukan konflik dari luar, selain kericuhan dari dalam istana. Dengan masuknya pengaruh serta budaya asing, mulai dari pergerakan pemberontak yang mengaku sebagai wakil Kristus, pasukan-pasukan dari Inggris, Perancis, hingga invasi Jepang serta Rusia, pengaruh yang diberikan oleh para misionaris asing serta biarawan dan biarawati yang mencari pengikut, kemajuan tehnologi modern yang menarik perhatian kaum muda namun dikecam dan dianggap sebagai hal terlarang oleh kalangan tua dan konservatif. 

Jika membaca kisah kehidupan keluarga Wang lewat Trilogi ‘The Good Earth- Sons- A House Divided’ maka pembaca akan disajikan pada kehidupan rakyat yang melalui perubahan iklim politik dan budaya tradisional menuju era modernisasi, maka lewat ‘Imperial Woman’ kita melihat bahwa kehidupan penghuni Kerajaan memiliki kesamaan dengan rakyat Cina, terlepas dari darah bangsawan serta ke-aristokrat-an yang selalu diagung-agungkan, mereka semua harus menyerah pada invasi bangsa asing, menerima kemajuan jaman, secara perlahan meninggalkan peninggalan kehidupan para leluhur. Yang cukup menarik dalam kisah ini, sosok Tzu Hsi yang semula mencemooh para pemimpin bangsa asing, justru menaruh hormat serta kekaguman tersendiri pada sosok Ratu Victoria – penguasa Inggris pada waktu itu. 

Tentang Penulis :
Pearl Sydenstricker Buck ( 26 Juni 1892 – 6 Maret 1973 ), dikenal pula dengan nama Cina Sai Zhenzhu, adalah seorang penulis asal Amerika yang menghabiskan separuh hidupnya di Cina hingga tahun 1934. Lahir di Hillsboro, West Virginia, dan dibawa ke Cina pada usia 3 bulan mengikuti tugas yang diemban oleh ayahnya sebagai seorang misionaris, karena itu Pearl dibesarkan dalam lingkungan bilingual, baik Cina maupun Inggris. Keluarga mereka mengalami masa-masa berat saat Pemberontakan Kaum Boxer, menimbulkan perpecahan antara bangsa Cina dan bangsa Asing (terutama dari Barat).

Pada tahun 1911, beliau meninggalkan Cina untuk menuntut ilmu di Amerika, dan baru kembali ke Cina pada tahun 1914 dan menikah dengan John Lossing Buck pada tanggal 13 Mei 1917, menetap di Suzhou, di Provinsi Anhui (lokasi yang beliau gunakan pada novelnya The Good Earth). Kemudian mereka pindah di kediaman baru di Nanking, Cina dan keduanya juga mengajar di Universitas Nanking. Kehidupan mereka semakin berat dengan propaganda pemerintahan baru Chiang Kai-shek, dan pada Maret 1927 Tragedi Nanking  yang mengambisi nyawa ribuan orang, membuat mereka menjadi salah satu dari sekian banyak bangsa asing yang bersembunyi dari kejaran tentara Chiang Kai-shek. Pada tahun 1934, mereka meninggalkan Cina untuk menetap di Amerika, dan tak pernah kembali ke Cina (pada tahun 1972, beliau berencana mengunjungi Cina, namun terkena larangan Presiden Nixon yang baru membuka hubungan diplomatik dengan pemerintah Cina). Pada tanggal 6 Maret 1973, beliau meninggal di Danby, Vermont akibat kanker paru-paru.

Beliau merupakan sosok yang sangat aktif dalam pergerakan hak-hak kaum wanita, pelestarian budaya Asia, masalah dan topik seputar birokrasi di bagian imigrasi, adopsi, pekerjaan misionaris dan kampanye anti-perang. Pandangan politik serta pengalaman hidupnya, banyak tercurah dalam karya-karyanya abik berupa novel, kumpulan cerita pendek, fiksi, cerita anak, serta biografi keluarganya. Di tahun 1949, beliau tergerak untuk membangun Welcome House, Inc – agen adopsi Internasional pertama yang menangani kasus-kasus anak-anak ‘blasteran/campuran’ yang banyak ditolak di kedua belah pihak. Selama 5 dekade perjuangan mereka, agensi ini telah berhasil menempatkan hampir 5.000 anak-anak terlantar ke keluarga penuh kasih yang bersedia mengadopsi mereka. 

Kegiatan beliau sebagai seorang humanitarian tak berhenti sampai di sini. Di tahun 1964, beliau mendirikan Pearl S. Buck International yang memiliki tujuan mengangkat harkat hidup anak-anak terlantar dan miskin di Asia, terutama mereka yang tidak memenuhi persyaratan untuk diadopsi. Pergerakannya kian meluas hingga membentuk panti-panti asuhan di Korea Selatan, Thailand dan Vietnam dengan nama Opportunity House. Sebagaimana ia katakan, “Tujuan utama misi ini adalah menyebarkan sekaligus menghapuskan ketidak-adilan serta prasangka terhadap anak-anak, hanya karena mereka terlahir berbeda, bukan berarti  mereka tak boleh menikmati pendidikan, menjalani kehidupan sosial serta status layaknya anak-anak normal lainnya.”

Keberanian dirinya sebagai aktivis politik yang berhubungan dengan harkat manusia, tampak pada era dimana pembicaraan atau diskusi tentang topik ini bisa membuat seseorang ditangkap dan ditahan. Beliau justru menantang masyarakat Amerika dengan mengangkat isu rasialis, diskriminasi sex, dan ribuan bayi-bayi terlahir dan terlantar akibat perlakuan tentara Amerika terhadap kaum wanita di Asia selama peperangan. Rumah tempat kelahiran beliau di Hillsboro kini menjadi sebuah museum sejarah dan pusat budaya yang dibuka untuk umum, siapa saja yang peduli dan bersedia membuka pikiran serta Impian masa depan yang lebih baik.  Pearl S. Buck adalah seorang istri, ibu, penulis, editor dan aktivis hak-hak kemanusiaan. Para pembaca bisa melihat buah pikirannya lewat The Good Earth yang masuk dalam daftar bestseller selama 1931-1932 di Amerika, sekaligus memenangkan penghargaan Pulitzer Prize di tahun 1932. Pada tahun 1938, beliau dianugerahi Nobel Prize in Literature atas tulisannya yang kaya akan penggambaran detail kehidupan orang-orang yang tersia-sia di Cina. 

Info selengkapnya tentang penulis beserta karya-karyanya, silahkan kunjungi situs-situs berikut :
All About Pearl S. Buck [ Wikipedia on Pearl S. Buck  ] | All Movies Adaptation [ Pearl S. Buck Movies  ]

Best Regards, 


No comments:

Post a Comment

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)