Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Monday, February 18, 2013

Books " A NOTE FROM ICHIYO"



Judul Asli : A NOTE FROM ICHIYO
Penulis : Rei Kimura
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Moch. Murdwinanto  
Cover by Mulyono
Cetakan ke-01 : Maret 2012 ; 280 hlm 

Saat melihat buku ini yang pertama menarik perhatian adalah covernya, dengan illustrasi desain bunga sakura dilatar belakangi foto mata uang kertas Jepang dengan sosok wanita di dalamnya … lebih mendekat, terpapar tulisan : “Catatan Ichiyo – Perempuan Miskin Di Lembar Uang Jepang”  - wah, semakin penasaran diriku dan segera membalik back-cover guna mengetahui sinopsisnya, ternyata kisahnya semakin menggugah keingin-tahuanku akan kebenaran isi bukunya …

Kisah dibuka pada saat sosok Ichiyo Higuchi bertahan dengan kondisi penyakitnya yang semakin parah, berlanjut dengan kondisi ‘flash-back’ kembali ke masa lalu, kisah tentang kedua orang tuanya, perjalanan hidup mereka hingga lahirlah anak-anak termasuk si cilik Natsuko yang di kemudian hari berganti nama menjadi Ichiyo. 

Yang cukup menyenangkan gaya penulisan yang digunakan menggunakan bahasa simple, bahasa sehari-hari dengan pengungkapan yang lugas, tanpa disertai gaya kuno yang terkadang terlalu panjang dan bertele-tele. Dengan menggunakan dialog serta berbagai percakapan, membuat pembaca seakan ‘menonton’ sebuah kisah drama di televisi, penggambaran suasana hati serta perasaan para karakter, semakin mempererat pemahaman kita akan kondisi serta situasi yang sedang terjadi.


Maka tidak mengherankan buku setebal 280 halaman ini mampu kuselesaikan dalam waktu yang sangat singkat namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Sungguh tidak mudah menghidupkan sosok kehidupan nyata dalam perjuangannya menghadapi tragedi hidup hingga berhak menyandang penghargaan yang mengisi sejarah bangsa Jepang. Sosok yang dalam kehidupan nyata hidup dalam kemiskinan yang merenggut nyawanya, hanya berbekal semangat tinggi yang  mampu membuatnya bertahan hingga menghasilkan karya-karya yang terus dikenang hingga kini. Dan masyarakat Jepang akan selalu mengingat perjuangannya lewat selembar uang kertas 5.000 Yen Jepang di mana wajah Ichiyo diabadikan. 

Diriku salut terhadap penulis, yang mampu merangkum perjalanan hidup sosok penting dalam sejarah  sebatas  300 halaman  - tanpa menimbulkan rasa bosan dan jenuh dalam pembacaan, atau justru sebaliknya, merasa tidak puas dengan hasil penulisan ( yang sering ku alami dengan novel-novel tipis, ide serta pengembangan karakter sudah bagus, tapi karena sangat singkat, dipaksakan selesai dengan ketidak-puasan pembaca )

Nah, sudahkah Anda siap menikmati kisah perjalanan hidup wanita mengagumkan, walau bukan ‘super-woman’ tapi sudah berani menentang adat istiadat kuno yang sangat meremehkan dan merendahkan kaum wanita. Luangkan waktu Anda untuk membaca kisah ini. Bukan novel yang masuk bestseller hingga cetak-ulang berkali-kali, bukan jenis novel romantis yang mendayu-dayu, bukan pula novel tentang kekejaman zaman hingga manusia menderita … ini hanyalah sekedar kisah wanita miskin yang hidup di era kuno, terbelengku oleh berbagai aturan yang berlaku di masyarakat, hanya keberanian serta kekuatan Impian membuat dirinya ‘berbeda’ dengan yang lain. 

Jika Anda pernah membaca kisah Merry Riana, maka bayangkan sosok wanita yang sama tetapi pada era yang jauh berbeda, namun dengan rintangan dan tantangan yang sama. Dunia nyata memang sedikit lebih kejam ( penuh diskriminasi ) dalam memperlakukan wanita, tidak peduli pada era atau zaman yang berbeda. Tapi satu pelajaran penting yang menjadi pegangan orang-orang yang “berhasil” dalam hidupnya : memegang teguh Impian dan tidak pernah menyerah pada kondisi apa pun.   

Meminjam ucapan Kuniko – adik tersayang Ichiyo, pada suatu siang 300 tahun silam : “ Kau akan menjadi terkenal, mungkin wajahmu akan muncul dalam uang kertas Jepang suatu hari nanti, Ichiyo, dan kita tak akan pernah miskin lagi ! ” Ichiyo tertawa, “ Teruslah bermimpi, ya Kuni-chan, paling tidak itulah yang dapat kita lakukan terus-menerus, karena mimpi itu gratis ! “

Pada sekitar tahun 1857 Jepang pada zaman Meiji, pasangan Noriyoshi Higuchi dan Furuya Ayame melarikan diri dari desa tempat tinggal mereka menuju ibukota Edo. Mereka berdua masih sangat muda, namun kondisi Furuya yang hamil sebelum mereka menikah, akan menjadi aib  bagi keluarganya, dan pernikahan merupakan pilihan yang tak pernah diterima oleh kedua belah pihak keluarga masing-masing. 

Noriyoshi Higuchi – pemuda tampan dan menarik, memiliki cita-cita tinggi untuk mengangkat derajat hidupnya pada posisi terhormat, namun kemiskinan menghalangi jalannya, hanya kepandaian serta kecerdasan otaknya yang menjadi bekal hidupnya. Furuya Ayame – gadis cantik, putri pengusaha kaya, hidup dalam kelimpahan serta kenyamanan,  jatuh hati pada pemuda tampan namun miskin sehingga dianggap tidak layak oleh keluarganya. 

Perjalanan hidup dari desa ke kota besar, berusaha bertahan hidup dengan menjual simpanan serta harta benda yang tidak banyak, berpindah ke kota lain demi mengikuti majikan yang mau mempekerjakan Noriyoshi, bukan hal yang mudah bagi Furuya, apalagi ketika ia melahirkan anak pertama tanpa didampingi satu pun kerabatnya. Tapi Furuya berusaha menerima semuanya, sembari berdoa bagi terwujudnya cita-cita sang suami. 

Bahkan ketika Noriyoshi meminta dirinya memenuhi perintah penguasa shogun yang mencari ibu-susu bagi putrinya yang baru lahir, Furuya harus pergi ke kediaman samurai yang sangat jauh, meninggalkan bayinya demi menyusui bayi orang lain. Semua karena ambisi Noriyoshi yang bertekad mengangkat derajat keluarganya menjadi seorang samurai.
Bahkan ketika akhirnya Furuya berhasil kembali pada keluarganya, dan berturut-turut melahirkan anak, ambisi Noriyoshi tidak pernah pudar, justru semakin tersulut dan mengusahakan agar putra-putranya dijadikan anak angkat keluarga samurai. Dan Natsuko – anak kelima, putri kedua, lahir dengan tenang tanpa banyak merepotkan ibunya, menyusul Kuniko – putri bungsu, adik tersayang Natsuko. 

Semenjak kecil Natsuko kecil menjadi kegembiraan di keluarganya. Ia sangat cerdas, sehingga mampu menarik hati serta perhatian Noriyoshi. Furuya merasa cemas dengan peralihan ambisi Noriyoshi yang dilimpahkan pada putrinya, dengan memberikan pelajaran sastra klasik serta puisi-puisi. Tapi Noriyoshi tidak memperdulikan larangan istrinya, ia melihat suatu harapan pada putrinya yang sangat cepat menangkap pelajaran yang diberikan dengan kehausan akan pengetahuan yang sangat jelas – sungguh berbeda dengan putra-putranya. 

Dengan dorongan sang ayah untuk mereguk ilmu setinggi-tingginya, bertentangan dengan sang ibu yang khawatir akan masa depan seorang gadis yang terlalu sibuk dengan sastra dan puisi, bagaiman putrinya akan menjadi calon istri yang baik ? Namun Natsuko memutuskan menjalani hidup yang ia sukai : membaca dan menulis. Maka masa kecil Natsuko membuatnya dijauhi teman-teman sebaya, tak ada yang mau mengajaknya bermain, jika diajak pun Natsuko tidak menyukainya…gadis ini menjadi kutu buku yang hidup dalam dunianya sendiri. 

[ source ]
Natsuko menjadi dewasa dalam pikiran, meski masih sangat belia usianya. Ia bisa melihat bahwa tidak ada hal yang mustahil jika kita menginginkan sesuatu, bahkan semasa kecil ia sering berkelahi dengan kakak-kakaknya demi mempertahankan pendapatnya.

“Kau tak mungkin menjadi penulis, Natsuko, karena kau perempuan,” kata Sentaro. “Tugas perempuan adalah menikah dan tinggal di rumah serta melahirkan anak, bukan menjadi penulis atau apa pun !”
“Jangan berkata begitu, Sentaro,” teriak Natsuko. “Perempuan mampu menjadi apa pun yang mereka inginkan asalkan mereka memiliki otak dan sepasang tangan ! Mereka sama pintarnya dengan laki-laki !” (p. 48-49)

Impian Natsuko satu-satunya yang membuatnya bertahan dalam menghadapi kehidupan keluarganya yang semakin terpuruk. Dimulai dengan pemerhentian ayahnya dari dinasnya pada usia 57 tahun. Menyusul penyakit parah menyeret Sentaro  - putra tertua harapan keluarga, pada kematian di usia muda. Putra kedua yang pemalas, memilih berpisah dengan keluarga, tak mau mengambil alih tanggung jawab, bahkan setelah Noriyoshi meninggal dalam usia 59 tahun dalam kondisi sedih dan patah hati setelah kematian putranya, dan ia juga meninggalkan warisan hutang menumpuk pada sisa keluarga yang terdiri dari tiga orang wanita. Natsuko yang akhirnya mengambil alih tugas sebagai kepala keluarga, bergelut setiap saat-setiap hari antara Impian dan beban penderitaan yang diterima keluarganya.

“Sekarang aku harus berjuang sendirian, untuk pertama kalinya aku menatap diriku dalam cermin dan melihat seorang perempuan kurus berwajah seperti burung, begitu mungil, lemah dan rapuh, apakah itu benar-benar diriku ? Mampukah aku meraih keberhasilan ? Dan aku tahu di dalam tubuh kecil ini terdapat hati yang tulus dan api semangat menulis yang berkobar-kobar dan aku bersumpah demi setiap hela napas di tubuhku bahwa aku akan dikenang karena karya tulisanku – buku harianku. Bahkan jika aku harus mati untuk itu, aku tak akan membiarkan diriku dilupakan.” ( p.86 )

Tentang Penulis :
Rei Kimura adalah seorang pengacara yang memiliki passion dalam bidang menulis. Keunggulan karya-karyanya terletak pada penggambaran peristiwa dan karakter tokoh yang unik. Ia menampilkan kisah yang digali dari kejadian nyata dan hidup orang-orang sebenarnya di dalam beberapa bukunya. Ia meyakini bahwa ini sebuah cara yang paling baik untuk menjadikan sejarah yang tersembunyi menjadi “hidup” dan dapat diterima oleh pembaca di abad 21. 

Dengan cara itu, Kimura menyentuh beberapa sejarah tragis seperti tenggelamnya Kapal Awa Maru dan kisah pilot kamikaze perempuan  di masa Perang Dunia II lalu merangkainya menjadi sebuah cerita yang menyentuh bagi orang-orang yang hidup dan meninggal pada masa kejadian itu. 

Kimura memandang karya-karyanya sebagai pencarian atas kebenaran, tantangan, dan kepuasan. Buku-bukunya diterjemahkan ke berbagai bahasa di Asia dan Eropa dan telah terbit di seluruh dunia. Selain menjadi pengacara, Kimura juga seorang jurnalis freelance yang andal dan tergabung dalam Australian News Syndicate. 

Best Regards,


No comments:

Post a Comment

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)