Moderator

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Google+ Followers

Translate

Wednesday, March 27, 2013

Books "SAGA NO GABAI BAACHAN"



Judul Asli : SAGA NO GABAI BAACHAN
Copyright © 2001, 2004 Yoshichi Shimada
Illustration Copyright © 2004 Jiro IHA
Indonesian edition copyright © by Mahda Books
Penerbit : Kansha Books ( a division of Mahda Books )
Koordinator Penerjemah : Mikihiro Moriyama
Alih Bahasa : Indah S. Pratidina
Editor : Tim Kansha
Sampul : Iksana Banu
Isi : Husni Kamal
Cetakan I : Januari 2012 ; 320 hlm

“Nek, dua-tiga hari ini, kita makan kok hanya nasi ya, tanpa lauk?” Sambil tertawa terbahak-bahak, nenekku menjawab, “Besok nasi pun takkan ada kok.” Kami hanya bertatapan mata, kemudian kembali terbahak bersama.

Demikianlah kalimat pembuka kisah ini yang langsung memikat hatiku. Kisah yang semula kusangka sebagai kisah fiksi, ternyata merupakan semi biografi penulis tentang kisah masa kanak-kanaknya hidup bersama sang nenek di desa, karena sang ibu yang merupakan orang tua tunggal tak mampu membiayai kehidupan mereka di kota. Maka si kecil Akihiro di kirim untuk tinggal di desa. Keberangkatan Akihiro pun melalui ‘sandiwara’ seakan-akan ia diajak menemani mengantarkan sang bibi yang sedang berkunjung, kembali pulang ke desa. Dan sesaat kereta mulai berangkat, Akihiro didorong masuk ke dalam kereta api yang kemudian melaju, meninggalkan sang ibu yang menangis karena harus melakukan tindakan sedemikian rupa demi keselamatan hidup mereka bersama.

Kehidupan Akihiro di desa juga tidak mudah. Sang nenek yang bekerja sebagai pembersih di sekolah, seringkali tak memiliki uang yang cukup untuk hidup mereka berdua. Namun Akihiro belajar semenjak usia dini, bahwa kehidupan tidak sekedar mengandalkan uang, melainkan kecerdikan dan keberanian mengambil kesempatan. Semuanya berkat ajaran hidup serta teladan yang diberikan sehari-hari, hingga kemiskinan yang mereka alami bukan merupakan penderitaan semata melainkan proses kehidupan yang harus diperjuangkan. Beberapa saat lalu diriku sempat membaca kisah ‘ibuk’ karya Iwan Setyawan yang juga merupakan biografi perjuangan kehidupan seorang wanita, demi keluarganya, suami serta anak-anaknya. 


Meski pelajaran yang mampu dipetik dari kedua kisah ini serupa, namun ada sedikit perbedaan dalam penuturan kisah Nenek Hebat dari Saga ini. Membaca kisah ini kita diajak untuk menertawakan berbagai ‘hal yang tidak penting’ dalam kehidupan, dan fokus pada hal-hal yang lebih utama. Sang nenek mengajarkan untuk selalu bersyukur atas segala hal yang diterima dan dialami dalam sehari, tidak perlu memusingkan pada apa yang tidak bisa diperoleh, karena berkat akan selalu datang setiap hari meski dalam wujud yang berbeda-beda.

Menghadapi kondisi perekonomian saat ini, di mana tuntutan semakin tinggi namun pemasukan tak juga mampu menutupi biaya kebutuhan hidup yang juga semakin meningkat, maka buku ini layak untuk dibaca bagi siapa saja,karena kisah-kisahnya menuturkan apa yang lebih penting dalam kehidupan. Seperti ketika Akihiro ingin mengikuti latihan Kendo maupun Judo, karena semua itu membutuhkan biaya tambahan, sang nenek menyarankan jenis olah raga lain untuk dipilih : Lari !! Kenapa Lari, karena tidak perlu membayar. Maka semenjak itu si kecil Akihiro latihan berlari di mana saja, kapan saja. Tak heran saat pekan olah raga ia terpilih sebagai wakil di bidang atletik, dan masa depannya juga berubah berkat latihan lari yang dilakukan setiap hari. 

Melalui gambar sampul depan yang dibuat oleh Iksaka Banu, terlukis sang nenek sedang berjalan sembari menggandeng sang cucu, dan yang unik ada sebuah magnet yang terikat di pinggangnya. Karena sembari berjalan mengantar sang cucu atau berangkat-pulang kerja, magnet yang diikat di pinggangnya akan menarik berbagai jenis besi dan logam yang nantinya dikumpulkan dan bisa dijual kembali.

“Sungguh sayang kalau kita sekedar berjalan. Padahal kalau kita berjalan sambil manarik magnet, lihat, begini menguntungkannya. Kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya. Benda yang jatuh pun kalau kita sia-siakan, bisa dapat tulah.” [ p. 41 ]

Sang nenek mengajarkan agar kita selalu melihat peluang dan kesempatan. Menerima kemiskinan bukan berarti duduk pasrah menerima nasib. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari, beliau sering berbelanja ke supermarket pribadi – di tepi sungai, di mana sering kali ranting dan kayu tersangkut pada galah, dan bisa digunakan sebagai kayu bakar. Termasuk makanan, seperti sayur-sayuran yang masih lumayan bagus, sering kali terhanyut dari pasar yang berada diujung sungai. Atau buah-buah yang dianggap sudah rusak dan dibuang ke sungai. Tak heran jika Akihiro juga belajar ‘memancing’ kebutuhan sehari-hari di sungai. Apa yang menjadi sampah bagi seseorang, bisa menjadi harta bagi orang lain.

“Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria.Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun temurun miskin.” [ p. 63 ]

Kisah yang harus dibaca dan dikoleksi. Bacaan yang mampu membuatku tersenyum sembari membayangkan nenek dari ayah yang juga merupakan perantauan, buta huruf namun mampu membesarkan ke-6 anaknya seorang diri hingga masing-masing selesai sekolah dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Melihat foto diri sang nenek dari Saga, kuteringat senyum manis nenekku yang masih tetap cantik di usia 90-an. Mungkin filsafah hidup generasi lampau cukup simple dan mereka menikmati kehidupan dengan lapang dada, sehingga usia lanjut tetap segar dan tampak awet muda. Tak perlu suntikan botoks atau operasi plastik, cukup menerapkan filosofi seperti ini.

“Manusia tidak bolah menengok ke belakang, terus maju dan maju, melangkah ke depan ! Hidup itu selalu menarik. Daripada hanya pasrah, selalu coba cari jalan !”
“Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.”

Tentang Penulis :
Yoshichi Shimada lahir di Hiroshima tahun 1950. Nama sebenarnya Akihiro Tokunaga. Dia menghabiskan masa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Saga. Di tahun 1975, bersama Yohachi membentuk kelompok lawak manzai “B&B” dan memenangkan gelar “Pendatang Baru Terbaik” pada kontes manzai di NHK. Di tahun 1980, mereka mempelopori manzai boom di Jepang. Saat ini Yoshichi masih berkarya di dunia pertelevisian, panggung, dan sebagainya. 

Best Regards,

 

No comments:

Post a Comment

Thank's for visiting & don't forget to leave your marks on comment form. Looking forward for your input & your next visit soon (^_^)
Terima kasih telah berkunjung & silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, saran serta inputan. Kami tunggu kunjungan berikutnya (^_^)